Pada Akhirnya, Aku Juga Mau Menikah Kok !!!!!

Posted on

Pada Akhirnya, Aku Juga Mau Menikah Kok

Ide untuk menuliskan tentang hal yang selalu saya hindarin sepanjang usia 20-an, kali ini terinspirasi dari obrolan saya dan AJ via telepon beberapa waktu yang lalu. AJ sempat berkata seperti ini :

Image result

 

Padahal seharusnya, tema ini penting banget ya dibahas untuk orang dewasa dalam hubungan yang pastinya udah serba dewasa.

Setelah 2 tahun jalan bareng AJ, beberapa bulan terakhir saya udah mau membahas soal nikah ini sejak mama mulai berubah drastis dengan meminta saya untuk segera menikah.

Seorang ustad pernah berkata kepada saya kalau salah satu tanda manusia dikuasai/disukain sama bangsa Jin adalah keengganan si Fulan untuk menikah.

Trus, saya ini lagi ditempelin jin gitu?

Beberapa faktor yang membuat saya menunda pernikahan adalah :

  • Ketika saya menikah, bisa dipastikan kebebasan saya sebagai perempuan pasti berkurang. Kebebasan itu seperti, membuat keputusan untuk diriku sendiri tentang apa yang ingin saya lakukan dan sebaliknya.
  • Ketika saya menikah, kalau pun saya dapat kesempatan untuk lanjutin Master opsinya cuma dua : saya kuliah jarak jauh atau suami ikut saya ke tempat saya kuliah. Dan jujur, saya gak tertarik sama kuliah jarak jauh karena pasti proses dan pengalaman saya pasti beda. Kalau suami pencemburu, otomatis pergaulan saya akan dibatasi dan wawasan yang saya bisa dapat dari orang-orang baru pun pastinya terbatas kecuali mereka adalah sesama cewek.
  • Ketika saya menikah, otomatis kalau lagi sumpek dengan pertengkaran saya nggak bisa lagi langsung pesen tiket (pas lagi ada duit lebih) dan terbang ke mana aja saya suka. Katanya sih itu perbuatan dosa terhadap suami.
  • Kalau saya menikah, berarti gaya hidup ala lajang seperti bisa pergi ke mana pun saya suka selama hari libur kerja, bangun siang sesuka hati, makan kapan aja saya mau entah mau masak apa beli.
  • Dan, kalau saya menikah nanti pastinya udah gak bisa cuek bebek nungging sama yang namanya anggota keluarga si suami yang resek. Iya nggak? Kan harus nganggap mereka juga sebagai keluarga walau dengan jelas wajah mereka datar dan mulut komat-kamit mencela di belakang kita.

Intinya, saya masih sayang banget dengan kebebasan yang saya miliki sekarang 😀 😀

Tapi…

Semua itu berubah ketika saya sudah melalui sendiri pengalaman-pengalaman yang membuat saya akhirnya tertarik untuk menikah, ada banyak sih sebenarnya hal-hal yang saya perhatikan dari orang-orang di sekitar saya, dari teman-teman blogger juga, dan dari arahan AJ sendiri.

Kalau ditanya, apakah saya mau menikah? Iya, saya mau menikah kok.

Oke deh, saya menyerah dengan keadaan bahwa mau nggak mau ya saya harus menikah untuk kebaikan saya sendiri, orang tua dan ridho Tuhan. Saya bukan manusia yang lahir sebagai orang Barat yang bisa hidup puluhan tahun tanpa pernikahan tapi bisa punya anak dan suami. Toh orang Barat pun ada juga yang ingin menikah apalagi saya yang sejak orok memang dilahirkan dengan budaya ketimuran.

Ada ‘tapi’ sekali lagi…

Tapi….

Nikahnya masih nanti, kalau saya udah siap dan yakin 100% dan AJ melamar di waktu yang tepat, bukan disaat mood-ku lagi nggak stabil apa lagi disaat saya harus memilih antara beasiswa atau dia. Itu bakalan susah dan dramanya bakalan panjang dan membosankan tingkat mampus.