Kisah Taufiq Effendi, tuna netra raih beasiswa dari 8 negara

Posted on Updated on

Kisah Taufiq Effendi, tuna netra raih beasiswa dari 8 negaraTaufiq-Effendi

Taufiq Effendi. ©2015 Merdeka.com

Merdeka.com – Taufiq Effendi, menjadi tuna netra sejak berusia 10 tahun. Namun siapa sangka, pria asal Bandung, Jawa Barat, ini berhasil menerima delapan beasiswa di luar negeri, dan berhasil lulus dengan predikat cum laude.

Taufiq memang sempat menjalani hidup yang tak mudah. Dirinya tertabrak kendaraan ketika usia enam tahun, yang mengakibatkannya harus menyandang status sosial baru sebagai tuna netra. Belum lagi Taufiq pernah mengalami putus sekolah dan mendapat diskriminasi pendidikan serta pekerjaan akibat keadaan fisiknya tersebut.

Namun hal itu tak memudarkan semangat untuk mewujudkan mimpinya. Dengan usaha dan semangat menggebu, akhirnya Taufiq berhasil mengukir sejarah besar dalam hidupnya. Dirinya menyelesaikan Sarjananya di Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris Universitas Negeri Jakart dalam waktu 3,5 tahun dengan predikat Cum Laude. Bukan hanya itu saja, dia pun menjadi wisudawan terbaik fakultas dan berhasil menghirup udara di permukaan bumi lain dengan memenangkan sejumlah beasiswa luar negeri.

Berdasarkan Global Umaro Education (GLUE) Institute, yakni salah satu program beasiswa penuh pendidikan bahasa Inggris bagi masyarakat tidak mampu atau memiliki keterbatasan fisik/ tuna daksa yang dibuat Taufiq, Taufiq sudah mendaratkan kakinya di Malaysia, Jepang, Inggris, Skotlandia, Uni Emirat Arab, Belanda, Amerika Serikat.

Tepat Januari 2013, Taufiq pergi menimba ilmu ke negeri Kangguru dengan beasiswa penuh dari Australian Development Scholarship. Dirinya pun berhasil menyelesaikan dua Master of Education dalam bidang Pengajaran bahasa Inggris dan dalam bidang Evaluasi Pendidikan dari University of New South Wales.

Keberuntungan seolah selalu menyertai Taufiq, di tengah masa studi, dirinya direkrut menjadi assistant researcher untuk sebuah proyek penelitian untuk Australian Research Council di tahun 2013 akhir. Selanjutnya, di tahun 2014 Taufiq direkrut untuk menjadi independent research consultant untuk sebuah pryek penelitian besar, kolaborasi antara Australian National University dan Department of Immigration and Border Protection, pemerintah Australia.

Meski sudah mendapat segala keberhasilan di negeri orang, Taufiq tak lupa dengan tempat dia berasal. Taufiq kembali ke Indonesia, dan menetap di Bandung bersama istri dan dua anaknya. Dengan kemudian membangun mimpi membesarkan sebuah lembaga pendidikan bernama Global Umaro Education (GLUE) Institute. Salah satu program yang dibuat lembaganya adalah beasiswa penuh pendidikan bahasa Inggris bagi masyarakat tidak mampu atau memiliki keterbatasan fisik/ tuna daksa.