Mahasiswa Indonesia Inspiratif yang Sukses Kuliah di Luar Negeri

Posted on

Mahasiswa Indonesia Inspiratif yang Sukses Kuliah di Luar Negeri

Semua warga negara memiliki hak yang sama dalam menempuh pendidikan. Baik anak petani, anak nelayan, anak profesor, anak presiden, seorang seniman maupun selebritis. Dengan sama ratanya hak yang dimiliki tersebut pun akhirnya memberikan kebebasan bagi masyarakat.

Setelah mengenal apa itu beasiswa LPDP, kamu bisa memacu semangatmu untuk berkuliah di dalam ataupun luar negeri dengan menyimak cerita Anak Bangsa yang sukses kuliah di Luar Negeri. Di tengah kesibukan yang begitu padat, ada saja orang yang sering mengabaikan hak-hak pribadi mereka seperti waktu tidur yang cukup, refreshing, liburan dan bahkan pendidikan mereka.

Namun di samping itu, kita akan menemukan beberapa orang yang dalam keterbatasannya, mereka mampu membuktikan bahwa pendidikan adalah hal penting yang harus mereka dapatkan walau dengan bersusah payah. Siapa sajakah mereka?

  • Taufik Effendi, Tuna Netra Raih Beasiswa dari 8 Negara

Taufiq Effendi, menjadi tuna netra sejak berusia 10 tahun. Namun siapa sangka, pria asal Bandung, Jawa Barat, ini berhasil menerima delapan beasiswa di luar negeri, dan berhasil lulus dengan predikat cum laude.

Cara Irit Pererat Pertemanan dengan Jalan-JalanTaufiq memang sempat menjalani hidup yang tak mudah. Dirinya tertabrak kendaraan ketika usia enam tahun, yang mengakibatkannya harus menyandang status sosial baru sebagai tuna netra. Belum lagi Taufiq pernah mengalami putus sekolah dan mendapat diskriminasi pendidikan serta pekerjaan akibat keadaan fisiknya tersebut.

Namun hal itu tak memudarkan semangat untuk mewujudkan mimpinya. Dengan usaha dan semangat menggebu, akhirnya Taufiq berhasil mengukir sejarah besar dalam hidupnya. Dirinya menyelesaikan Sarjananya di Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris Universitas Negeri Jakarta dalam waktu 3,5 tahun dengan predikat Cum Laude. Bukan hanya itu saja, dia pun menjadi wisudawan terbaik fakultas dan berhasil menghirup udara di permukaan bumi lain dengan memenangkan sejumlah beasiswa luar negeri.

Berdasarkan Global Umaro Education (GLUE) Institute, yakni salah satu program beasiswa penuh pendidikan bahasa Inggris bagi masyarakat tidak mampu atau memiliki keterbatasan fisik/ tuna daksa yang dibuat Taufiq, Taufiq sudah mendaratkan kakinya di Malaysia, Jepang, Inggris, Skotlandia, Uni Emirat Arab, Belanda, Amerika Serikat.

Tepat Januari 2013, Taufiq pergi menimba ilmu ke negeri Kangguru dengan beasiswa penuh dari Australian Development Scholarship. Dirinya pun berhasil menyelesaikan dua Master of Education dalam bidang Pengajaran bahasa Inggris dan dalam bidang Evaluasi Pendidikan dari University of New South Wales.

Keberuntungan seolah selalu menyertai Taufiq, di tengah masa studi, dirinya direkrut menjadi assistant researcher untuk sebuah proyek penelitian untuk Australian Research Council di tahun 2013 akhir. Selanjutnya, di tahun 2014 Taufiq direkrut untuk menjadi independent research consultant untuk sebuah pryek penelitian besar, kolaborasi antara Australian National University dan Department of Immigration and Border Protection, pemerintah Australia.

Meski sudah mendapat segala keberhasilan di negeri orang, Taufiq tak lupa dengan tempat dia berasal. Taufiq kembali ke Indonesia, dan menetap di Bandung bersama istri dan dua anaknya. Dengan kemudian membangun mimpi membesarkan sebuah lembaga pendidikan bernama Global Umaro Education (GLUE) Institute. Salah satu program yang dibuat lembaganya adalah beasiswa penuh pendidikan bahasa Inggris bagi masyarakat tidak mampu atau memiliki keterbatasan fisik/ tuna daksa.

  • Stevan, Tidak Diterima Kuliah di UGM, Ia Sukses S2 di Eropa

Dia adalah Stevan (26), pemuda asli Yogyakarta yang tadinya gagal lolos masuk UGM. Sedihnya luar biasa. Menjadi mahasiswa UGM adalah cita-citanya sejak SMA. Dari awal, ia ingin sekali membuat bangga orangtuanya dengan menjadi mahasiswa UGM. Berhari-hari ia kehilangan arah dan bingung,

Namun ia sadar, terlalu lama bersedih tidak akan membuat keadaan menjadi lebih baik. Hanya membuang-buang waktu.

Alih-alih galau dengan penolakan UGM, Stevan malah mencoba daftar kuliah di luar negeri. Ia pun terus belajar, mencari  kenalan yang sedang kuliah di luar negeri. Siang malam ia fokus belajar untuk satu tujuan : mendapatkan beasiswa kuliah di luar negeri.

“Aku ingin kuliah di kampus terbaik. UGM adalah kampus terbaik di Indonesia, dan aku sudah ditolak olehnya. Tak ada pilihan lain, aku harus kuliah di luar negeri,”.

Ia bekerja SANGAT KERAS untuk mengasah bahasa Inggrisnya. Tiada hari tanpa kamus bahasa Inggris. Siang malam jungkir balik untuk menguasai bahasa Inggris. Berkali-kali ikut tes TOEFL. Semua keluarga dan teman-temannya di sekolah tahu kalau Stevan sangat terobsesi untuk bisa mendapatkan beasiswa kuliah di luar negeri. Itu bisa dilihat dari kerja kerasnya. Pokoknya harus bisa kuliah di luar negeri! Titik!

Ia juga tidak malu untuk menghubungi kenalan-kenalan barunya, pergi ke luar kota pun ia lakukan, hanya untuk meminta saran dan mintai diajarin supaya bisa lolos beasiswa ke luar negeri. Kerja kerasnya membuahkan hasil. Stevan berhasil mendapatkan beasiswa S1 kuliah di India. Di India, Stevan ternyata tidak hanya kuliah. Ia juga aktif di organisasi internasional, sering mengadakan festival di India. Bahkan pernah menjadi panitia Simposium Internasional PPI Dunia 2012 di New Delhi, India, yang mengundang Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono.

Berkat aktif di organisasi, Stevan memiliki banyak kenalan dari berbagai negara. Ia menjadi semakin tahu celah-celah untuk bisa kuliah di luar negeri secara gratis. Celah-celah yang tidak banyak diketahui orang.

Ini terbukti, setelah menjadi sarjana dari India, Stevan meneruskan kuliah Master dengan mengambil S2 di University of Bologna, Italia. Saat ini, Stevan sedang mempersiapkan penelitiannya di negeri kincir angin, Belanda. “Dibalik kegagalanku masuk UGM, ternyata ada hikmah luar biasa. Tuhan punya rencana besar untukku. Aku bisa merasakan kuliah di India, di Italia, dan sebentar lagi di Netherland. Semuanya dengan beasiswa,”

Di sela-sela waktunya, Stevan ingin membantu adik-adiknya untuk bisa mewujudkan mimpi kuliah di luar negeri. Bersama Inspira Book, Stevan menulis buku JKLN (Jurus Kuliah ke Luar Negeri).

“Saya tidak pintar, bahasa Inggris pas-pasan, tidak ada yang istimewa dari saya. Sampai pada akhirnya saya menemukan rahasia-rahasia untuk bisa kuliah di luar negeri. Rahasia itu ingin saya wariskan ke adik-adik yang ingin kuliah di luar negeri. Saya ceritakan secara blak-blakan. Tidak ada yang ditutup-tutupi. Rahasia itu ada di buku JKLN”.

  • Jamal, Mendapat Beasiswa Ke Jepang Dengan Nilai Pas-Pasan!

Panggilan akrabnya Jamal. Berawal dari SD pinggiran di Kota Malang, berlanjut menjadi siswa biasa di SMP biasa di Kota Malang, kemudian melanjutkan sekolah di MAN yang hanya lulus dengan nilai pas-pasan. Siapa sangka anak yang biasa bolak-balik masuk ruang guru untuk remedial dan hampir tidak lulus UNAS SMA bisa masuk UGM. Siapa sangka lulusan biasa-biasa saja yang kadang dipandang sebelah mata bisa kuliah di Jepang dengan Beasiswa INPEX yang hanya memilih 3 orang mahasiswa Indonesia setiap tahunnya.Kini, Jamal menjadi mahasiswa master di Hokkaido University, Jepang. Berikut ceritanya…

“Jadi sebenarnya cerita mengapa aku memilih Hokkaido University cukup panjang. Ada faktor kesengajaan dan ada juga yang tidak disengaja. Mungkin aku akan mulai cerita dari faktor ketidaksengajaan dahulu, ya. Jadi pada tahun 2013, saat aku masih menjadi mahasiswa semester 8, ceritanya aku iseng-iseng mengirim abstrak penelitian ke sebuah konferensi yang diadakan di Hokkaido University. Pada saat itu aku tidak ada bayangan sama sekali seperti apa itu Hokkaido, bahkan mungkin saat itu adalah saat pertamaku mendengar nama Hokkaido University. Sebelumnya aku hanya tahu tentang Tokyo, Kyoto, dan Osaka University yang diyakini sebagai tiga kampus terbaik seantero Jepang. Untuk Hokkaido University sendiri, aku hanya tahu bahwa kampus ini ada di Jepang, tidak lebih dari ini. Dan secara tidak sengaja penelitianku diterima dan dengan jalan yang berliku dan panjang, akhirnya aku tiba juga di Hokkaido University. Tepat di puncak musim salju 2013, aku tiba di Jepang dan merasa sangat nyaman dengan suasana Kota Sapporo dan Hokkaido University tentunya. Untuk alasan mengapa aku merasa nyaman, nanti akan aku ceritakan lebih rinci”.

Pada saat itu, aku bertemu dengan mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di Hokkaido University dan beliau nyeletuk “Jamal nggak coba cari professor di sini? Barangkali ada yang cocok, lho”. Setelah aku pikir, ada benarnya juga. Aku sudah jauh-jauh dari Indonesia ke Jepang dan tentunya aku pulang dengan mendapatkan hasil semaksimal mungkin. Segera aku lihat profil professor-professor yang ada di Hokkaido University, dan setelah menemukan salah seorang professor yang cocok, aku membuat appointment untuk bertemu dengan beliau dan beruntung beliau bersedia untuk kutemui. Setelah pertemuan yang unforgettable itu, aku tetap menjaga kominukasi dengan beliau hingga aku sekarang bisa sampai sini. Saat itu aku sempat membatin, “aku akan kembali lagi ke Sapporo untuk mengambil sebagian hatiku yang kutinggal di Sapporo”

  • Muhammad Firmansyah Kasim – Teori Fisika

Mahasiswa program doktoral di Universitas Oxford, Muhammad Firmansyah Kasim, mengatakan ia melanjutkan studi dalam bidang fisika karena penasaran. Menjawab sejumlah pertanyaan dari #KabarDariInggris di Facebook BBC Indonesia, Firman mengatakan ia masih merasa ilmu yang ia dapatkan masih belum banyak.

Lulusan Institut Teknologi Bandung ini terpilih sebagai salah satu dari tiga mahasiswa pertama Indonesia yang diterima magang di organisasi penelitian nukir Eropa, CERN, di Jenewa, Swiss pada pertengahan tahun 2013. “Saya mengejar gelar doktor ini karena masih penasaran dengan ilmu fisika,” kata Firman, 24 tahun.

Ia mengatakan salah satu upayanya untuk menuntut ilmu di universitas di luar negeri adalah punya pengalaman bekerja di lingkungan internasional.

“Nah, untuk mempersiapkan itu, saya biasanya gunakan waktu saat libur semester untuk mengerjakan berbagai proyek-proyek pribadi, kebanyakan proyek programming,” kata Firman kepada BBC Indonesia. Firman sempat diterima magang di Universiti Teknologi Malaysia dan juga di CERN, Jenewa. “Magang di UTM dan di CERN itulah yang mungkin membantu saya diterima di Oxford,” tambahnya.TOKOH-INSPIRATIF-ANAK-BANGSA

  • Raeni, Anak Tukang Becak Wisudawan Terbaik Unnes dan Sudah Lulus S2 di Inggris

Masih ingat dengan Raeni, perempuan asal Kendal, yang menghebohkan media saat wisuda S1 di Universitas Negeri Semarang (Unnes), dua tahun silam? Anak tukang becak yang berhasil menjadi wisudawan terbaik di Universitas Negeri Semarang (Unnes) periode kedua 2014. Saat itu, dia lulus dengan IPK yang nyaris sempurna, yakni 3,96.

Prestasinya tersebut tentu tidak hanya membanggakan sang ayah, Mugiyono. Masyarakat Tanah Air pun turut kagum pada prestasi Raeni.

Kabar Raeni yang menjadi wisudawan terbaik itu pun sempat sampai ke telinga Presiden (saat itu), Susilo Bambang Yudhoyono. Raeni kemudian mendapat undangan khusus untuk bertemu SBY dan Ani Yudhoyono. Tidak hanya itu, presiden juga memberikan hadiah kepada Raeni berupa beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya di luar negeri.

Raeni pun akhirnya memutuskan untuk melanjutkan studi S2-nya di University of Birmingham, Inggris. Ia mengambil program Magister of Science, International Accounting and Finance melalui program beasiswa LPDP.

Lalu, hampir dua tahun berlalu, apa kabar Raeni sekarang? Penelusuran Tribun Jateng, Raeni ternyata sudah menyelesaikan studi S2-nya. Raeni kini berhasil menambah gelarnya sebagai Master of Science. Ia bahkan sudah kembali ke Tanah Air. Raeni sudah berada di Kendal, sejak akhir Oktober 2016.

Kepulangan Raeni ini pun disambut suka cita oleh keluarga, kerabat dan rekan-rekannya. Seperti terlihat pada beranda akun Facebook milik Raeni yang dibanjiri oleh sejumlah tautan yang menyambut kepulangannya.

Sama halnya yang diunggah oleh Dian Setyawati yang memberi sambutan dengan kata-kata hangat. “Masih ingat dengan salah satu sosok inspiratif kita, Raeni, penerima program beasiswa bidik misi yang beberapa tahun lalu diberi kesempatan bertemu dengan Bapak SBY dan Ibu Ani karena prestasinya lulus dengan predikat terbaik, IPK 3,96, di Universitas Negeri Semarang. Alhamdulillah hari ini diberi kesempatan bertemu dengan Raeni lagi setelah setahun ga ketemu. Gelarnya yang dibawa mungkin sudah berbeda, studi Magisternya di Inggris (melalui beasiswa LPDP #tetep) sudah selesai, tapi karakternya tetap sama: bersemangat dan rendah hati.”