Musik

MENGEJAR MIMPI HINGGA EROPA

Posted on

MENGEJAR MIMPI HINGGA EROPA

StevanSejak di bangku SMA saya punya cita-cita menjadi Duta Besar. Alasan nya sederhana saja; setiap kali membaca koran, saya selalu tertarik membaca berita-berita internasional. Saya sangat ingin tahu apa yang terjadi di luar Indonesia dan mempelajari bagaimana pola pikir orang-orang di luar negeri. Datang dari keluarga menengah, saya tidak berani bermimpi untuk pergi keluar negeri dengan biaya dari orang tua. Sebagai anak SMA, saya berpikir, diplomat merupakan profesi yang memberi kesempatan ke luar negeri dengan dibiayai negara.

Dari bangku SMA N 4 Yogyakarta saya mulai meretas mimpi sebagai Duta Besar. Saya mulai berpikir bahwa Jurusan Hubungan Internasional UGM adalah target saya setelah lulus SMA nanti. Namun, mengejar mimpi benar-benar tidak semanis membayangkannya. Saya paham betul tidak mudah masuk HI UGM, terutama jika lingkungan belajar di SMA tidak begitu mendukung. Saya masih ingat bagaimana saya selalu sibuk mengerjakan kumpulan soal UM UGM disaat teman-teman saya bercanda dan bolos kelas. Tidak salah, jika saya terkadang skeptis apakah perjuangan saya membawa hasil. Namun, untuk mencapai sebuah mimpi, saya kira, tidak ada pilihan lain selain bekerja keras. Malam sebelum UM UGM saya ingat betul bagaimana saya ‘menuntut’ Tuhan untuk mengubah nasib saya karena saya merasa sudah belajar keras. Dan benar saja, Tuhan tidak pernah mengingkari janjinya. Saya kemudian diterima sebagai mahasiswa HI UGM.

HI UGM

Pertanyaan pertama setelah menjadi mahasiswa HI UGM, what’s next after this? Di awal perkuliahan, saya memang sudah berkomitmen untuk menyelesaikan kuliah tepat waktu. Dengan masa studi ini, saya berharap dapat memaksimalkan potensi diri salah satunya dengan aktif dalam kegiatan kemahasiswaan dan ikut mendaftar beasiswa luar negeri. Secara akademis, sejak semester satu, saya merasa HI merupakan pilihan yang tepat. Saya sangat menikmati semua topik perkuliahan yang ditawarkan. Para staff pengajar HI UGM juga sangat inspiratif dalam menyampaikan topik perkuliahan. Saya tidak bisa memungkiri hal inilah yang membuat saya bersemangat kuliah. Saya pikir, ketertarikan terhadap topik perkuliahan merupakan faktor yang esensial bagi seorang mahasiswa. Dengan inilah, mahasiswa bisa bertahan ditengah banyaknya tantangan selama kuliah.

Selama menjadi mahasiswa UGM, saya aktif di beberapa kegiatan kampus melalui Korps Mahasiswa Hubungan Internasional (KOMAHI), Bulaksumur Pos, Peace Generation – sebuah komunitas perdamaian anak muda. Dengan kegiatan extra kampus dan kewajiban kuliah, manajemen waktu menjadi hal yang sangat penting bagi seorang mahasiswa. Guna mengatur aktifitas inilah, saya selalu menggunakan buku agenda. Ini yang membantu saya tetap fokus dengan apa yang saya kerjakan karena hampir setiap hari saya menuliskan target dan to do list yang harus saya kerjakan. Check list ini membantu juga untuk bekerja secara efektif dan memaksimalkan waktu yang ada setiap hari nya. Tidak itu saja, di awal semester, saya biasanya menuliskan target yang ingin saya capai pada semester tersebut. Target inilah yang menjadi ‘track’ saya. Di akhir semester, saya juga melakukan evaluasi atas proses belajar yang saya lalui. Ini yang mendorong untuk tetap berada pada fokus: lulus tepat waktu dengan hasil yang baik.

Selama kuliah ini, cita-cita saya untuk menjadi Duta Besar mulai berubah arah. Sebagai anak sulung dengan dua adik yang juga duduk di bangku kuliah, saya paham betapa berat nya beban finansial yang harus diemban orang tua. Saya kemudian menjadi sangat realistis untuk segera lulus cepat dan bekerja di Perusahaan Multinasional yang akan menggaji saya besar. Dari titik inilah, saya kemudian membuat rencana untuk memperpendek masa studi. Kebetulan, saya juga sudah menyelesaikan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Program Gempa saat masih semester 4. Inilah yang membuat saya lebih bertekad untuk segera menyelesaikan studi. Konsekuensi dari pilihan ini adalah saya tidak akan mengambil tawaran beasiswa luar negeri yang nantinya dapat memperlama masa studi. Saya hanya fokus menyelesaikan kewajiban belajar yang tersisa. Pada akhir semester 5 saya sudah mulai menyusun proposal skripsi yang diseminarkan di awal semester 6. Di semester ini pula, saya mendapatkan kesempatan mengikuti ‘Summer School Asian Emporiums’ di University of Malaya, Malaysia selama 40 hari. Di program ini, saya belajar mengenai Asia Tenggara dari konteks politik, sosial dan budaya. Tuhan benar-benar memberikan yang terbaik. Keinginan saya untuk bisa belajar di luar negeri kesampaian tanpa harus keluar dari rencana saya untuk lulus cepat. Sepulang dari Malaysia, saya kembali menyelesaikan skripsi dan melakukan pendadaran sesuai dengan rencana. Dengan izin Tuhan saya dinyatakan lulus dengan masa studi 3 tahun 9 hari. Di hari wisuda, saya dinyatakan sebagai lulusan tercepat universitas dan lulusan terbaik Jurusan Ilmu Hubungan Internasional UGM. Sungguh sebuah hal yang tidak pernah bisa saya bayangkan mengingat betapa dulu keinginan menjadi mahasiswa UGM saja sudah sebuah mimpi besar.

Secara akademis maupun kegiatan non kampus, saya merasa sangat puas dengan pencapaian ini. Secara pribadi, saya merasa sangat berkembang. Saya belajar bagaimana melakukan manajemen waktu dan bekerja secara efektif dengan hasil maksimal. Saya juga sangat bersyukur, UGM telah memberikan lingkungan belajar yang sangat kondusif. Belajar dengan orang-orang pintar dari seluruh Indonesia dan dididik oleh dosen-dosen yang berkualitas. Belum lagi, jaringan internasional yang UGM miliki telah mampu memberi kesempatan bagi mahasiswa nya untuk lebih aktif di level internasional. Kerja keras selama ini benar-benar terbayar ketika saya lulus, UGM benar-benar memberikan kontribusi bagi pertumbuhan pola pikir dan karakter saya.

KEHIDUPAN SETELAH LULUS

Setelah lulus, saya pergi ke Jakarta untuk melamar pekerjaan di perusahaan multinasional. Saya sempat mengikuti test bekerja di beberapa perusahaan. Namun selama mengikuti proses ini saya merasa ini bukan panggilan saya. ‘I’ll die as a person if I work in this sector’. Gumaman inilah yang terngiang di kepala setiap saya memasuki gedung-gedung besar di Jakarta. Inilah yang membuat saya kembali ke Jogja setelah hanya satu bulan mencoba peruntungan saya di ibukota. Keinginan saya pulang ini juga karena saya mendapatkan informasi Jurusan Ilmu Hubungan Internasional akan membuka lowongan asisten dosen. Sambil menunggu bukaan resmi dari Jurusan, Rektor UGM, Prof Ir Sudjarwadi M.Eng Ph.D meminta saya untuk membantu Kantor Urusan Internasional (KUI) UGM. Perkenalan saya dengan Pak Rektor sendiri terjadi karena saya nekad bertemu beliau dengan hanya bermodalkan lulusan tercepat UGM. Pada kesempatan pertemuan tersebut, Pak Rektor menceritakan bahwa UGM sedang mempercepat kerjasama internasional dengan universitas di luar negeri. Satu bulan semenjak saya lulus, saya kemudian bekerja di KUI UGM sebagai ‘Program Coordinator for Europe and Middle East’.

Tidak lama berselang setelah saya mulai bekerja di KUI, saya mengikuti ujian sebagai asisten dosen di Jurusan Ilmu Hubungan Internasional UGM. Posisi ini menjadi jalan awal bagi saya untuk merintis karier sebagai akademisi. Keinginan sebagai akademisi memang sempat terlintas di kepala, namun hal ini tergerus dengan keinginan untuk bekerja di sektor swasta yang bergaji besar. Maka saat saya diterima sebagai bagian dari Jurusan Ilmu Hubungan Internasional, saya bertekad untuk menjadi mandiri secara finansial. Sebagai asisten, saya bertugas untuk membantu semua aktifitas akademik di jurusan. Pekerjaan ini saya lakukan bersamaan dengan tugas saya di KUI. Pada titik ini pula, saya mulai berpikiran untuk melanjutkan studi S2 ke luar negeri. Bapak Muhadi Sugiono, MA yang merupakan pembimbing skripsi saya yang pada saat itu menjadi Kepala Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) UGM menawarkan beasiswa sekolah S2 program Peace Education ke University for Peace (UPeace), Costa Rica. Kesempatan ini ada dalam skema kerjasama antara UGM dengan UPeace. Saya masih pikir-pikir mengingat sudah ada beberapa dosen yang mendalami kajian perdamaian. Saya pribadi berharap dapat belajar area baru di Hubungan Internasional. Bersamaan dengan ini, ada kesempatan untuk mendaftar program Network on Humanitarian Action (NOHA) di Rijksuniversiteit of Groningen (RuG), Belanda.

Karena ketertarikan saya dengan isu humanitarian action ditambah belum ada staff pengajar di jurusan yang mendalami hal ini, maka saya meniatkan diri untuk mengirim aplikasi beasiswa ini. Pak Rektor, Ibu Daniar Natakusumah, LL.M (Mantan Kepala KUI UGM), Bapak Dr Rachmat Swiwijaya (Kepala KUI UGM) dan Bapak Muhadi Sugiono, MA merupakan beberapa pihak yang sangat mendorong aplikasi beasiswa saya di Program NOHA Erasmus Mundus. Bahkan, Pak Rektor dan Ibu Daniar dalam kunjungan kerja nya di RuG melakukan endorsement atas aplikasi saya. Upaya banyak pihak ini berhasil meloloskan saya untuk sekolah S2 NOHA di RuG (semester 1) dan Uppsala Universiteit, Swedia (semester 2) dengan beasiswa dari Uni Eropa. Program NOHA merupakan kajian S2 multidisipliner dimana mahasiswa dapat mengikuti kegiatan perkuliahan di dua universitas yang berbeda selama masa studi 16 bulan.

STUDI DI EROPA

Saya berangkat ke Belanda pada Bulan Juli 2009. Program pertama yang harus saya ikuti adalah NOHA Intensive Programme di Universitéd’Aix-Marseille III, Prancis. Selama 10 hari, mahasiswa dari 7 universitas network di NOHA dikumpulkan untuk mendapatkan pengantar kuliah sebelum kembali belajar ke universitas masing-masing. Tujuh universitas NOHA adalah Rijksuniversiteit of Groningen (Belanda), Universidad de Deusto (Spanyol),Uppsala Universitet (Sweden), Ruhr-Universität Bochum (Jerman),University College Dublin (Irlandia),

Université Catholique de Louvainin (Belgia) dan Université d’Aix-Marseille III (Prancis). Mahasiswa NOHA memiliki hak untuk mengambil kuliah di universitas yang berbeda dengan semester pertama. Di semester satu, semua mahasiswa di tujuh universitas ini mempelajari modul yang sama: International Law, Geopolitics, Public Health, Management, Anthropology, Psychology. Sedangkan, di semester dua, setiap universitas ini memiliki kajian yang berbeda Uppsala Universiteit tempat saya belajar di semester dua mengajarkan ‘Conflict, Peace Studies and Religion in Humanitarian Action’.

Tantangan terberat saya selama belajar di Eropa, saya alami saat semester satu. RuG sangat terkenal dengan tradisi keilmuwannya yang sangat tinggi dan berkualitas. Pada program NOHA sendiri, RuG sangat terkenal ketat dalam memberikan banyak tugas. Hampir tiap malam saya harus tidur larut karena mempersiapkan kelas keesokan paginya dan mengerjakan tugas kuliah. Keluhan ini tidak hanya dirasakan oleh saya namun juga oleh hampir semua teman-teman sekelas. Saya menyadari betul bahwa saya harus bekerja lebih keras mengingat teman-teman yang mayoritas datang dari negara Eropa Barat pasti sudah sangat familiar dengan sistem pengajaran. Ini harus saya lakukan jika saya tidak mau ketinggalan. Pernah suatu kali, ada tugas debat untuk kuliah geopolitics. Kami dibagi ke dalam berbagai macam topik dan kelompok (affirmative (mendukung topik debat) dan negative (oposisi terhadap topik debat)). Saya kemudian berpartner dengan teman Belanda yang diharuskan mendukung sebuah topik debat (affirmative). Saya menghubungi sahabat saya yang telah aktif sebagai debater untuk latihan sebelum kelas dimulai. Dengan menggunakan media skype saya melakukan simulasi dengan sahabat saya yang juga sedang mengambil S2 di Paris ini. Persiapan ini sangat membantu saya mendapatkan nilai 8,5 (dari total 10). Dari 25 teman sekelas, kurang dari sepuluh orang mendapatkan nilai diatas 8. Sekali lagi saya menyadari, bahwa ‘preparation makes perfect.’

Meskipun begitu, ada juga saat dimana saya down jika saya tidak memenuhi target belajar. Tapi, apapun itu, ‘everything goes for some good reasons’, pasti ada alasan yang baik dibalik semua hal yang terjadi. Dukungan dari teman-teman sekelas juga sangat membantu. Hal ini bisa ditemukan dalam tugas kelompok yang mengambil porsi besar di semester awal di RuG. Tidak jarang, kami saling back-up dan memberi masukan satu sama lain saat proses pengerjaan tugas.

Pada akhir Bulan Januari 2010, saya terbang ke Uppsala Universiteit, Swedia, untuk memulai semester dua saya di universitas tersebut. Dari jauh-jauh hari, teman-teman saya sudah mengingatkan tentang udara dingin di Swedia. Benar saja, cuaca adalah tantangan pertama saya di negara tersebut. Saya datang di tengah musim dingin bersuhu minus 20. Uppsala yang merupakan kota pelajar benar-benar tertutup oleh salju. Di bulan pertama, saya tidak sanggup berjalan kaki karena udara yang sangat dingin sekali. Kebiasaan saya bersepeda di Belanda pun harus saya kesampingkan. Namun dengan biaya transportasi yang cukup mahal, saya harus mulai membiasakan diri untuk berjalan kaki. Maka dimulailah petualangan berjalan di antara gundukan salju besar di kota yang hampir semua bangunan dan pepohonan nya tertutup salju. Pernah suatu pagi, dengan sudah menggunakan dua sarung tangan, saya berangkat ke kampus. Saat tiba di kampus, dua teman sekelas saya dari Amerika Serikat dan Skotlandia menyapa saya sambil tersenyum dan bertanya: ‘Selamat Pagi, Nisa, tahu tidak suhu diluar berapa?’ Saya yang baru sampai di kelas hanya bisa menggeleng kepala. Lalu mereka sambil tersenyum berkata: ‘Ini minus 30.’ Sambil melepas sarung tangan, saya tersenyum kecil dan bilang ke teman Amerika saya: ‘Hei Peter, saya harus memberi reward ke diri saya sendiri, I survive.’ Di hari yang sama, suhu di Jakarta 30 derajat. Sangat tidak terbayangkan saya ‘terdampar’ di sebuah negara Skandinavia yang suhunya sangat jauh berbeda dengan Indonesia. Keadaan ini membuat saya benar-benar tertantang. Saya kemudian ikut keempat teman saya pergi mengunjungi Festival Musim Dingin di Jokkmokk, Swedia Utara. Jokkmokk sendiri terletak persis di dalam garis antartika. Perjalanan kesana ditempuh 14 jam dengan kereta dari Uppsala. Tantangan kedua melawan cuaca adalah saat saya bersama teman-teman sekelas pergi ke Estonia dengan menggunakan kapal pesiar dari Stockholm. Sesampai di Estonia, salah satu negara di Eropa Timur, kami langsung ditantang badai salju. Benar-benar pengalaman tidak terlupakan.

Pengalaman belajar di Uppsala sedikit berbeda dengan di Belanda. Tugas-tugas yang diberikan di Uppsala tidak sebanyak saat semester satu. Meskipun begitu, secara individu kami diberikan tugas besar untuk melakukan riset mendalam mengenai sebuah konflik termasuk membuat skema resolusi konflik nya. Tugas paper konflik analisis ini nantinya dipresentasikan di depan kelas. Menurut professor saya di Uppsala, sistem kuliah di Swedia memberikan ruang bagi mahasiswa nya untuk melakukan refleksi atas apa yang mereka pelajari, sedikit berbeda dengan di Belanda dimana mahasiswa diberikan banyak tugas. Bahkan, pernah suatu ketika, professor saya merevisi deadline pengumpulan ujian tulis yang pada awalnya hari Sabtu menjadi hari Senin depan. Hal ini dikarenakan ada hukum di Swedia yang mengatur para pengajar untuk tidak membebankan tugas kepada mahasiswa saat weekend. Pikir saya, benar-benar luar biasa negara ini, hingga hal seperti itu sangat dihargai dan diatur.

Pada dasarnya, saya merasa lebih disiplin saat di Uppsala. Seperti kebiasaan saya semenjak kuliah di UGM, saya merencanakan awal semester dengan target yang ingin saya capai, yang nantinya saya rinci kecil-kecil kepada target mingguan dan harian. Selama di Swedia saya berkomitmen untuk mulai mengerjakan thesis dan fokus mencari kemungkinan magang di organisasi kemanusiaan. Program magang merupakan kewajiban yang harus dilakukan oleh mahasiswa NOHA di semester 3. Saya memulai dua hal ini disaat belum ada teman satu kelas saya memulai. Namun kembali lagi saya berpikir, dengan kemampuan mereka, saya yakin mereka bisa lebih cepat bekerja. Jadi, agar nantinya saya tidak ketinggalan saya harus mulai sedari awal. Pada Bulan Maret 2010, saya kembali ke Belanda selama satu minggu untuk melakukan bimbingan thesis Bab 1 dan 2. Professor saya sempat bertanya bagaimana saya bisa mengerjakan dua bab thesis disaat kuliah aktif berjalan di Uppsala. Dan sekali lagi, ini ada pada manajemen waktu yang terkendali.

Pada kisaran periode itu juga, saya harus memulai mencari magang di organisasi kemanusiaan di Eropa. Sebagai penerima beasiswa Erasmus Mundus, Komisi Uni Eropa meminta para awardee untuk melakukan magang di Eropa. Ini artinya, saya harus berkompetisi dengan orang-orang dari berbagai penjuru dunia untuk mendapatkan kesempatan magang di Eropa. Saya sendiri berharap dapat melakukan magang di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ini bagian dari mimpi masa kecil. Maka mulailah saya mencari informasi tentang organisasi PBB yang membuka kesempatan magang. Aplikasi pertama, saya kirimkan ke United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), Paris, Prancis. Tidak ada jawaban. Saya kemudian berpikir, saya harus mempersiapakan lebih baik untuk aplikasi selanjutnya. Kemudian saya mengirimkan aplikasi kedua ke United Nations Office for Coordination of Humanitarian Affairs (UN OCHA), Jenewa, Swiss. Saya harus jujur, sejak awal saya pesimis bisa mendapatkan posisi ini karena UN OCHA merupakan salah satu aktor utama dan penting di sektor humanitarian action. Saya bahkan sudah meniatkan ini hanya latihan saja untuk seleksi magang selanjutnya. Satu minggu setelah aplikasi saya masuk, saya dihubungi untuk mengikuti seleksi tertulis via email. UN OCHA akan mengirimkan satu dokumen yang berisi laporan kemanusiaan mereka di Haiti dan saya diminta menganalisis dari berbagai aspek koordinasi yang mereka sebutkan dalam lembar pertanyaan. Saya diminta menjawab dengan mengacu pada dokumen yang mereka berikan. Pertanyaan ini harus saya kirimkan dalam waktu satu jam sejak mereka mengirimkan email pertanyaan beserta dokumennya. Saya tidak bisa berpikir hal lain kecuali mengerjakan apa yang saya bisa. Beberapa hari setelah saya mengirimkan test tertulis ini, saya dihubungi untuk wawancara. Saya kemudian diwawancara oleh empat orang via telepon dari Jenewa. Pertanyaan berkisar apa yang bisa saya berikan pada UN OCHA, apa pengalaman Anda di humanitarian action, apa rencana Anda setelah magang. Di akhir wawancara, mereka mengatakan, akan memberi tahu hasil wawancara 3 hari kemudian. Namun hanya berselang beberapa jam, mereka menghubungi bahwa saya diterima magang di UN OCHA, Jenewa, Swiss selama tiga bulan. Saya sungguh sangat bersyukur mengingat tiga teman saya dari Belanda, Irlandia dan Nepal juga mendaftar posisi yang sama. Saya mengakhiri studi saya di Swedia dengan indah seperti pemandangan musim semi yang indah di akhir proses belajar saya di negara Skandinavia itu. Saya mendapatkan magang di sebuah sebuah organisasi penting dan lulus di Uppsala dengan predikat ‘Very Good’, nilai tertinggi di sistem pendidikan Swedia. Benar-benar tidak terbayangkan.

Setelah dari Swedia saya sempat menikmati liburan musim panas di Prancis sebelum kembali ke rutinitas yang baru: MAGANG. Saya terbang ke Jenewa awal Agustus. Sesuai rencana, saya akan magang selama tiga bulan hingga Oktober. Sehari setelah saya tiba di Jenewa, saya langsung bekerja. Saya datang disaat yang tepat, saat UN OCHA mulai mengirimkan personel nya ke Pakistan. Saya magang di Surge Capacity Section yang bertanggung jawab terhadap pengiriman personel ke daerah konflik atau pun bencana alam. Tugas pertama saya adalah mencari Resolusi PBB yang mengatur tentang pengiriman personel. Hari berikutnya saya diminta untuk membuat chart yang berisi informasi keberangkatan setiap personel yang dikirim ke Pakistan. Chart ini akan menjadi acuan bagi UN OCHA untuk melihat kapasitas sumber daya manusia yang mereka miliki. Tugas ini membuat saya menjadi orang yang memiliki informasi komprehensif tentang pengiriman personel. Sebagai follow up atas tugas ini, saya juga diminta untuk mempersiapkan briefing book bagi UN Under-Secretary General (UN USG) yang saat itu akan berkunjung ke Pakistan. Tidak hanya itu, saya juga diminta untuk melakukan korespondensi langsung terkait Memorandum of Understanding (MoU) dengan partner OCHA. Tugas ini sangat menantang mengingat saya harus mengetahui betul apa yang menjadi hak dan kewajiban OCHA dan partner di setiap klausul MoU. Saya juga ikut membantu OCHA dalam menyeleksi independent consultant yang tertarik untuk dikirimkan sebagai personnel OCHA. Saya langsung mengasisteni proses seleksi dan bisa mendapatkan akses untuk ikut serta dalam proses pemilihan bersama panel seleksi yang terdiri dari OCHA New York, OCHA Geneva dan OCHA di kantor regional (Panama/Dubai/Bangkok). Mendapatkan kesempatan magang di PBB juga berarti mendapatkan akses untuk mengikuti rapat-rapat penting yang mereka lakukan. Di awal terjadinya banjir di Pakistan, saya sempat mengikuti rapat koordinasi kemanusiaan antara OCHA New York, OCHA Geneva dan OCHA Pakistan. Rapat koordinasi yang sebelumnya hanya bisa saya bayangkan selama mengkuti kelas di RuG, sekarang bisa saya ikuti langsung. Pengalaman ini membuka pemikiran saya untuk bisa bekerja lebih keras lagi, tidak hanya untuk karier saya sendiri tapi juga untuk kemanusiaan. Paling tidak, dengan bencana alam yang sering terjadi di Indonesia, kajian terhadap humanitarian action benar-benar sangat dibutuhkan.

Salah satu hal yang saya syukuri dari proses belajar di Eropa adalah mempelajari bagaimana etos kerja orang Eropa. Kuliah di Belanda mengajarkan saya bagaimana menjadi pribadi yang lebih organized. Orang Belanda sangat mengatur aktifitasnya per hari. Hampir semua orang Belanda memiliki buku agenda kegiatan yang mencatat semua hal yang mereka laksanakan. Komitmen pribadi ini juga ditunjukkan saat mereka berinteraksi. Berbeda sedikit dengan orang Belanda, bekerja dengan orang Jerman menjadi tantangan tersendiri bagi saya. Saya sangat menikmati bekerja kelompok dengan orang Jerman yang sangat serius, detail, punctual dan pekerja keras. Sejujurnya, saya belajar banyak dari teman saya orang Jerman yang mengatur segala aktivitas kehidupannya dengan rigid. Jika dia memutuskan belajar, maka dia akan menghentikan segala aktifitas yang tidak ada kaitannya dengan tugas kuliah. Orang Jerman sangat deterministik, salah satu hal yang menurut saya, membuat mereka menjadi bangsa yang maju. Belajar di Uppsala memberi kesempatan kepada saya untuk belajar bagaimana cara bekerja orang Swedia. Dibandingkan orang Belanda dan Jerman, orang Swedia lebih fleksibel. Hal ini bisa ditunjukkan dari bagaimana mereka memiliki academic hour (15 menit) untuk mengakomodasi keterlambatan. Meskipun begitu, orang Swedia terkenal dengan integritas nya yang tinggi. Tingkat kepercayaan satu sama lain juga sangat tinggi.

Setelah selesai magang, saya kembali ke Belanda untuk melakukan wawancara terkait proses magang dengan dosen saya di RuG. Saya juga mengagendakan bertemu dengan dosen pembimbing thesis. Situasi pada awal November benar-benar tidak kondusif karena saya sangat tidak tenang dengan kondisi Gunung Merapi saat itu. Hampir tiap hari saya menelpon keluarga saya yang tinggal 30 km dari Puncak Merapi. Kegelisahan saya ini sebenernya sudah bisa dicium kolega saya di PBB yang sangat supportif dan rajin menanyakan kabar keluarga saya. Bahkan mereka meminta saya untuk menggunakan telepon PBB sewaktu-waktu jika ada kondisi baru yang terjadi. Hidup jauh dari keluarga disaat kondisi tidak menentu memang benar-benar menyiksa. Dari sisi positif, ini menjadi motivasi saya untuk segera menyelesaikan urusan saya di Belanda. Pada saat wawancara magang, dosen saya menginformasikan bahwa PBB menilai kemampuan kerja saya sangat baik. Mereka dalam surat nya, bahkan sangat merekomendasikan saya untuk dapat diterima di organisasi yang sesuai dengan profile saya. Fakta ini membuat saya sangat lega. Terkait thesis, dosen saya mengaku sangat senang dengan hasil pekerjaan saya meski ada beberapa revisi kecil yang harus saya perbaiki. Satu minggu setelah semua urusan saya selesai, saya kemudian kembali ke tanah air.

Hingga detik ini saya tidak henti-hentinya bersyukur atas nikmat dan kemudahan yang Tuhan berikan kepada saya. Sejak berjuang masuk UGM saya memang mengandalkan kerja keras dengan persiapan yang memadai jika akan melakukan sesuatu. Hal ini saya lakukan karena saya paham kapasitas dan kemampuan saya yang masih kalah jauh dari banyak orang. Ini mengapa saya harus bisa mempersiapkan diri untuk bisa melangkah satu step lebih awal dari yang lain. Saya harus berterima kasih kepada kedua orang tua saya yang sejak kecil mengajarkan kedisiplinan dan pentingnya sebuah visi dalam menjalani hidup. Visi inilah yang kemudian saya ‘baca’ sebagai langkah awal untuk melihat pencapaian apa yang ingin saya raih. Setiap hari visi ini dikerjakan melalui baby step yang harus saya jalani dengan komitmen kedisiplinan. Saya ingin mewujudkan banyak mimpi di hidup saya. Ini mengapa saya harus siap untuk memperjuangkannya. Seperti kata Paolo Coelho, yang membuat hidup ini menarik adalah kemungkinan mewujudkan impian menjadi kenyataan (The Alchemist).

TENTANG PENULIS

ANNISA GITA SRIKANDINI merupakan mahasiswi angkatan 2004 pada Jurusan Ilmu Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) UGM. Annisa merupakan lulusan tercepat pada periode kelulusan bulan November 2007, yaitu 3 tahun 9 hari dan predikat Cum Laude dengan IPK tertinggi di antara mahasiswa Jurusan Ilmu Hubungan Internasional yang lulus pada periode tersebut. Annisa juga beberapa kali mengikuti konferensi dan pelatihan tingkat internasional yang antara lain: Workshop for Peace Educators in Southeast Asia, Miriam College, Filipina pada tahun 2009; Delegasi Indonesia pada ASEAN Youth Summit 2008 di Bangkok, Thailand yang diselenggarakan oleh Kementrian Luar Negeri Thailand; ASEAN Emporiums Class di University of Malaya, Malaysia pada tahun 2007.

Pada tahun 2010, Annisa telah berhasil memperoleh gelas masternya pada studi Humanitarian Action yang merupakan salah satu Program dari Erasmus Mundus dari Rijkuniversiteit of Groningen, Belanda danUppsala Universiteit, Swedia. Selain itu, Annisa juga berhasil memperoleh kesempatan magang di United Nations Officer for Coordination of Humanitarian Affairs(UN OCHA)Surge Capacity Sectiondi Geneva, Swiss pada bulan Agustus sampai Oktober 2010. Saat ini Annisa aktif sebagai staff pengajar di Jurusan Ilmu Hubungan Internasional UGM.

Baca entri selengkapnya »

Meski dengan Nilai Pas Pasan, Jamal Sekarang Menjadi Mahasiswa Master di Hokkaido University

Posted on Updated on

Meski dengan Nilai Pas Pasan, Jamal Sekarang Menjadi Mahasiswa Master di Hokkaido University

Meski dengan Nilai Pas Pasan, Jamal Sekarang Menjadi Mahasiswa Master di Hokkaido University

Panggilan akrabnya Jamal. Berawal dari SD pinggiran di Kota Malang, berlanjut menjadi siswa biasa di SMP biasa di Kota Malang, kemudian me…

Panggilan akrabnya Jamal. Berawal dari SD pinggiran di Kota Malang, berlanjut menjadi siswa biasa di SMP biasa di Kota Malang, kemudian melanjutkan sekolah di MAN yang hanya lulus dengan nilai pas-pasan. Siapa sangka anak yang biasa bolak-balik masuk ruang guru untuk remedial dan hampir tidak lulus UNAS SMA bisa masuk UGM. Siapa sangka lulusan biasa-biasa saja yang kadang dipandang sebelah mata bisa kuliah di Jepang dengan Beasiswa INPEX yang hanya memilih 3 orang mahasiswa Indonesia setiap tahunnya.Kini, Jamal menjadi mahasiswa master di Hokkaido University, Jepang. Berikut ceritanya..

Alasan  Memilih Hokkaido University

Jadi sebenarnya cerita mengapa aku memilih Hokkaido University cukup panjang. Ada faktor kesengajaan dan ada juga yang tidak disengaja. Mungkin aku akan mulai cerita dari faktor ketidak sengajaan dahulu ya. Jadi pada tahun 2013, saat aku masih menjadi mahasiswa semester 8, ceritanya aku iseng-iseng mengirim abstrak penelitian ke sebuah konferensi yang diadakan di Hokkaido University. Pada saat itu aku tidak ada bayangan sama sekali seperti apa itu Hokkaido, bahkan mungkin saat itu adalah saat pertamaku mendengar nama Hokkaido University. Sebelumnya aku hanya tahu tentang Tokyo, Kyoto, dan Osaka University yang diyakini sebagai tiga kampus terbaik seantero Jepang. Untuk Hokkaido University sendiri, aku hanya tahu bahwa kampus ini ada di Jepang, tidak lebih dari ini. Dan secara tidak sengaja penelitianku diterima dan dengan jalan yang berliku dan panjang, akhirnya aku tiba juga di Hokkaido University. Tepat di puncak musim salju 2013, aku tiba di Jepang dan merasa sangat nyaman dengan suasana Kota Sapporo dan Hokkaido University tentunya. Untuk alasan mengapa aku merasa nyaman, nanti akan aku ceritakan lebih detil.

Pada saat itu, aku bertemu dengan mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di Hokkaido University dan beliau nyeletuk “Jamal nggak coba cari professor disini? Barangkali ada yang cocok, lho”. Setelah aku pikir, ada benarnya juga. Aku sudah jauh-jauh dari Indonesia ke Jepang dan tentunya aku pulang dengan mendapatkan hasil semaksimal mungkin. Segera aku ngepoin profil professor-professor yang ada di Hokkaido University, dan setelah menemukan salah seorang professor yang cocok, aku membuat appointment untuk bertemu dengan beliau dan beruntung beliau bersedia untuk kutemui. Setelah pertemuan yang unforgettable itu, aku tetep keep contact dengan beliau hingga aku sekarang bisa sampai sini. Saat itu aku sempat membatin, “aku akan kembali lagi ke Sapporo untuk mengambil sebagian hatiku yang kutinggal di Sapporo”.

Tadi yang secara tidak sengaja. Untuk yang disengaja, alasan mengapa aku memilih Jepang mungkin mirip dengan kebanyakan orang. Kita sejak kecil sudah disuguhi dengan banyak sekali hal-hal berbau Jepang seperti anime, komik, dkk. Selain itu, Jepang juga salah satu negara yang maju dibidang sains dan teknologinya. Dan untuk spesifik Hokkaido University-nya, pertama karena Hokkaido University adalah salah satu kampus top 10 Jepang dan sekaligus sebagai kampus tercantik sejepang, kemudian karena aku ingin belajar tentang lingkungan, Hokkaido University punya Graduate School of Environmental Science yang pertama berdiri di Jepang. Menurut salah satu sempai, untuk bidang Plant Ecology, bidang yang saya dalami, di Hokkaido University adalah salah satu bidang Plant Ecology terbaik seJepang. Tidak hanya dari segi bidang ilmunya, kota Sapporo yang bukan kota kecil, dan juga bukan kota yang megapolitan sangat cocok denganku. Biaya hidup yang relatif terjangkau dibanding kota-kota penting lainnya di Jepang. Di kota Sapporo sendiri, akses ke tempat-tempat penting bisa dijangkau dengan mudah hanya dengan bersepeda atau berjalan kaki. Aku bisa bilang demikian karena aku sudah mengunjungi beberapa kampus lain dan sejauh ini Hokkaido University punya salah satu akses termudah.

Proses Pendaftaran ke Hokaido University 

Untuk proses pendaftarannya, sebenarnya saya apply beasiswa terlebih dahulu, setelah diterima beasiswanya, baru saya mendaftar ke kampus Hokkaido University.  Dan semua informasi pendaftaran diberitahu ke aku melalui sekretaris Professorku di Jepang dan dari Foundation beasiswaku. Jadi aku hanya let it flow aja. Tidak terlalu ambil pusing tapi tetap mematuhi deadline-deadline yang ada.

Untuk beasiswa, beruntung aku bisa menjadi salah satu penerima beasiswa INPEX Scholarship Foundation yang hanya diberikan kepada tiga orang setiap tahunnya. Aku sudah mengetahui informasi tentang beasiswa ini di beberapa semester terakhir kuliahku dari beberapa grup facebook yang aku ikuti, tapi aku tidak pernah menyangka aku bisa mendapatkan beasiswa ini. Bener-bener tidak menyangka. Tapi jangan berfikir kalau aku adalah orang yang cerdas dengan IPK menjulang tinggi atau jadi mahasiswa berprestasi di Kampus. Ada beberapa hal yang aku yakini menjadi alasan mengapa aku diterima beasiswa ini.

Untuk kelengkapan berkas sendiri, saat mendaftar beasiswa berkas yang dibutuhkan seperti application form, ijazah, transkrip, skor tes bahasa inggris, surat rekomendasi, surat keterangan sehat, dan CV. Sedangkan saat mendaftar ke kampus, syaratnya lebih simpel seperti application form, ijazah, dan traskrip nilai. Mungkin syarat-syaratnya sudah klasik banget ya. Jadi mungkin aku akan sedikit berbagi tentang hal-hal yang perlu diperhatikan saat mendaftar, terutama mendaftar beasiswa karena mendaftar beasiswa lebih sulit daripada mendaftar ke kampusnya.

Hal-Hal yang Harus Diperhatikan saat Mendaftar Beasiswa INPEX dan Hokkaido University 

Yang pertama, pastikan kamu tahu passionmu terlebih dahulu dan pastikan kamu itu berbeda dengan orang lain. Kamu punya jati diri dan kamu yakin dengan belajar ke Jepang, orang lain juga bisa mendapatkan manfaatnya. Yang kedua, jangan malas mencari informasi, karena zaman sekarang orang yang aktif mencari informasi akan lebih mendapatkan banyak hal dibanding dengan orang yang hanya menunggu atau meminta informasi secara pasif. Yang ketiga, jangan malu untuk meminta pertimbangan orang lain, terutama dalam penulisan application form. Dulu aku berkali-kali meminta koreksi ke dosen dan orang yang kompeten tentang bahasa inggris untuk membenahi bahasa inggrisku yang masih berantakan. Yang ke empat, pastikan kamu bisa membuktikan kalau kamu menyukai bidang yang ingin kamu dalami di Jepang. Semisal kamu ingin mendalami bidang lingkungan, kamu harus punya pengalaman yang menunjukkan bahwa kamu memang peduli dengan lingkungan, semisal kamu punya penelitian dan publikasi ilmiah tentang ilmu lingkungan, kamu aktif dalam kegiatan sosio-lingkungan, kamu mengetuai organisasi lingkungan, dll.

Jadi tidak melulu dilihat dari IPK meski IPK memang penting. Bagi kamu yang masih di awal tahun perkuliahan, kamu masih punya banyak waktu untuk mencari pengalaman sebanyak-banyaknya untuk mendukung profilmu, tapi bagi kamu yang mungkin sudah di penghujung tahun atau bahkan sudah terlanjur lulus kuliah, coba cari hubungan antara pengalamanmu dengan bidang studi yang ingin kamu dalami. Tapi kalau memang benar-benar tidak ada pengalaman, keep trying sama keep doing your best aja. Karena kesempatan tidak akan tertutup untuk siapapun yang ingin berusaha.

Proses Seleksi Masuk Hokkaido University

Jadi kalau skema beasiswa dan skema studi S2 di Jepang kebanyakan harus melalui tahapan yang namanya Research student. Setelah menjadi research student selama paling tidak 6 bulan, akan ada ujian masuk yang berbeda-beda tiap jurusan maupun beda universitas. Kalau menurut pengalamanku, ujiannya ada ujian tulis dan presentasi research plan. Untuk ujian tulis juga tidak bisa diprediksi, terkadang lebih sulit yang diperkirakan terkadang jauh lebih mudah dari yang dipersiapkan. Untuk tipsnya sih tentu kita perlu menyiapkan kemungkinan terburuk, yaitu soal ujian yang sulit. Jadi sebaiknya ya belajar sesuai dengan kisi-kisi yang diberikan oleh pihak penyelenggara ujian. Untuk cara belajar silahkan sesuaikan dengan cara belajar masing-masing.

Bahasa yang Digunakan di Hokkaido University

Untuk bahasa pengantar kuliah tergantung mata kuliahnya. Ada yang full Bahasa Inggris, ada yang bilingual Inggris-Jepang, ada yang full bahasa Jepang, atau bahkan ada juga yang trilingual, Bahasa Inggris-Jepang-Indonesia. Beruntung sebelum keberangkatan ke Jepang, pihak beasiswa INPEX juga membiayai biaya persiapan belajar bahasa Jepang di Indonesia. Sebelum ke Jepang aku sempat belajar bahasa Jepang selama 4 bulan dan aku melanjutkan belajar Bahasa Jepang setelah tiba di Jepang. Meski telah belajar, tetapi tetap saja memahami bahasa Jepang apalagi yang ilmiah tidaklah mudah. Di semester pertama aku cukup dibikin bingung dengan kuliah yang full Bahasa Jepang. Tetapi setelah di semester kedua, aku sudah bisa memahami penjelasan dosen meski dalam bahasa Jepang.

Kalau untuk aku pribadi, aku memilih mata kuliah yang aku suka, bukan berdasarkan bahasanya. Meski dalam bahasa Jepang, tugas-tugas serta komunikasi dengan dosen dapat dilakukan dalma bahasa Inggris. Dose-dosen juga memberikan kemudahan bagi mahasiswa asing.

SPP di Hokkaido University

Berhubung semua biaya sudah diurus oleh beasiswa, jadi aku tidak tahu berapa biaya SPP disini. Tapi setahu saya sih untuk program master sekitar 30 jutaan tiap semester kalau dirupiahin. Untuk jurusan lain juga kemungkinan kisarannya sama.

Mahasiswa Indonesia di Hokkaido University

Untuk di Hokkaido University sendiri, ada setidaknya 60-an mahasiswa dari Indonesia, tidak termasuk mahasiswa exchange yang jumlahnya tidak sedikit. Mahasiswa Indonesia di Hokkaido University menempati posisi ketiga terbanyak setelah mahasiswa Cina dan mahasiswa Korea. Disini kami juga punya yang namanya Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Hokkaido.

Kami PPI Hokkaido sering mengadakan even yang sering melibatkan seluruh warga Indonesia, tidak hanya mahasiswa, di Hokkaido. Karena mahasiswa Indonesia di Hokkaido terpusat di Hokkaido University dan hampir dari kami semua tinggal berdekatan satu sama lain, oleh karenanya, intensitas kami bertemu juga cukup tinggi. Jadi dengan atau tanpa kumpul-kumpul yang diadakan secara resmipun kami akan sering bertemu.

Kehidupan Mahasiswa Khususnya Mahasiswa Muslim di Hokkaido University

Untuk mahasiswa di kampus Hokkaido secara umum, mungkin sama seperti mahasiswa pada umumnya yang disibukkan dengan urusan kuliah, penelitian, dan kegiatan akademik lainnya. Tidak hanya kegiatan akademik, di Hokkaido University ada banyak kegiatan non akademik yang bisa dilakukan. Bisa dengan melakukan kerja paruh waktu, mengikuti klub olahraga maupun organisasi kemahasiswaan. Untuk aku pribadi, aku sering melakukan kerja paruh waktu sebagai pengajar Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, teaching assistant, dan lain-lain. Selain itu, aku juga bergabung di salah satu club seni bela diri tradisional Jepang dan menjadi perwakilan Indonesia di komite pengurus koperasi kampus yang merupakan mahasiswa asing di Hokkaido University. Aku juga menjadi pengurus di PPI Komisariat Sapporo sekaligus pengurus PPI Jepang pusat.  Sebisa mungkin, aku menyeimbangkan kegiatan akademik dan kegiatan non-akademik untuk memperkaya soft-skillku.

Sebagai mahasiswa muslim, aku merasa Hokkaido University dan Sapporo sangat muslim friendly. Di Hokkaido University sendiri, terdapat beberapa tempat sholat yang bisa diakses. Untuk masjid juga berlokasi tidak jauh dari kampus, hanya 5 menit berjalan kaki dari kampus. Mungkin Hokkaido University adalah salah satu kampus di Jepang yang memiliki akses termudah ke Masjid. Ketika bulan puasapun kegiatan shalat tarawih bersama, iktikaf, buka puasa bersama dan kegiatan lainnya yang biasa dilakukan di Indonesia bisa dilakukan disini juga. Pada sholat idul fitri maupun sholat idul adhapun kita bisa melakukannya di salah satu lapangan yang berlokasi di dekat masjid. Komunitas muslim Indonesia di Sapporo juga rutin mengadakan pertemuan mingguan yang biasa diisi dengan makan bersama, kajian, dan bincang-bincang untuk mendekatkan satu sama lain secara emosional. Jadi benar-benar tidak begitu berbeda dengan kehidupan muslim di Indonesia.

Dari segi makananpun sudah banyak sekali restoran masakan halal di sekitaran Kampus, begitupun di dalam kantin kampus yang juga menyediakan beberapa menu makanan halal. Jika ingin masak sendiripun, sudah banyak toko yang menjual daging berlabel halal dan toko-toko produk halal. Jadi kita disini tidak perlu khawatir tidak mendapatkan makanan halal.

Sistem Perkuliahan di Hokkaido University

Untuk sistem perkuliahan tentu berbeda dengan sistem perkulahan di Indonesia.  Pada umumnya, di kampus Jepang banyak presentasi jurnal maupun presentasi penelitian di laboratorium masing-masing. Namun kebanyakan dalam perkuliahan tidak ada ujian seperti di Indonesia yang materinya cukup padat.  Di Jepang, penelitian lebih diutamakan daripada kuliah yang biasa.  Oleh karenanya, dalam perkuliahan, aku merasa kalau nilai lebih mudah didapat daripada perkuliahan di Indonesia.

Tetapi, untuk labku cukup berbeda. Tidak ada banyak presentasi, tidak ada jam kerja,  pokoknya tidak se-strict lab lainnya di Jepang. Beberapa perkuliahan pun hanya membutuhkan waktu tiga hari intensif dan nilai 2 SKS akan keluar. Ada juga mata kuliah yang dalam setengah semester sudah selesai. Penelitianpun tidak seperti lab lain yang cukup under pressure, di labku urusan penelitian banyak menuntut kemandirian tiap anggota lab.  Tapi sekali lagi, apa yang aku alami tidak berlaku di semua kampus di Jepang.

Keunggulan Bidang Ilmu di Hokkaido University 

Hokkaido University terkenal untuk bidang Pertanian dan Ilmu lingkungannya.  Dalam sejarah berdirinya Hokkaido University, dahulu kampus ini bernama Sapporo Agricultural College yang bahkan lebih tua usianya daripada kampus Tokyo University yang namanya sudah menggaung. Karena berangkat dari bidang pertanian, Hokkaido University jadi dikenal akan bidang pertaniannya yang maju. Hokkaido sendiri terkenal akan produksi hasil pertaniannya yang bagus dan melimpah dibandingkan dengan daerah lain di Jepang. Tapi kalau pendapat pribadiku, hal ini bukan berarti bidang lain tidak bagus.

Bagus tidaknya kampus juga tidak dilihat dari rankingnya, tetapi dari kesesuaian bidang kita dengan professor. Semisal bidang ilmu perikanan yang menggunakan aplikasi GIS, meski banyak kampus yang rangkingnya berada di atas Hokkaido University, namun untuk bidang ilmu ini, salah satu yang paling berkembang se Jepang ada di Hokkaido University. Mungkin untuk contoh ekstrimnya, sebagus apapun Harvard University di bidang Ilmu Sosialnya, tetapi kalau bidang kita adalah sastra Indonesia, kuliah di Indonesia akan jauh lebih baik daripada di Harvard University sekalipun.

Fasilitas Mahasiswa di Hokkaido University

Untuk fasilitas aku rasa sama dengan kampus Jepang lainnya karena dari segi fasilitas cenderung merata di Jepang. Biasanya semua riset yang dilakukan didalam laboratorium akan dibiayai secara penuh oleh Lab sehingga kita tidak perlu mencari sumber dana lain untuk bisa melakukan penelitian. Dan secara umum, di kampus di Jepang, mahasiswa bisa mengakses berbagai alat-alat canggih secara gratis yang kalau di Indonesia pengguna diharuskan membayar sekian rupiah untuk bisa menggunakannya. Mahasiswa disini juga bisa keluar masuk kampus kapanpun selama 24 jam, berbeda dengan di Indonesia yang terkadang membutuhkan ijin untuk bisa tinggal lebih lama di dalam kampus.

Hokkaido University itu cantik di setiap musim. Ada sakura dan bunga berwarna warni di musim semi, ada banyak pepohonan hijau di musim panas, ada warna warni daun berguguran di musim gugur, dan ada salju halus di musim dingin. Tidak semua kampus bisa menikmati keindahan empat musim, loh. Kedua, seperti yang sudah aku bilang kalau akses disini sangat mudah, tidak seperti yang dibayangkan orang sebelumnya. Akses dari airport kurang dari 40 menit dengan kereta, kemudian dari Sapporo Station ke kampus kurang dari 10 menit. Akses ke tempat-tempat pentingpun bisa dijangkau hanya dengan bersepeda beberapa menit. Masjid cuma 1 blok dari kampus, dari depan masjidpun kampus sudah bisa terlihat. Beberapa produk halal juga bisa diakses dengan mudah. Kemudian berhubung kalau kemana-kemana kita tidak perlu naik kereta atau subway, biaya hidup di Sapporo jadi lebih terjangkau. Berbeda dengan kota-kota lain yang untuk ke kampus perlu naik subway, atau hanya ingin makan saja perlu naik bus. Jadi di Hokkaido University, bisa mendapatkan fasilitas riset yang oke, pemandangan kampus yang oke, dan biaya hidup yang relatif terjangkau.

Bergaul di Lingkungan Internasional

Kalau menurutku pribadi sih yang penting jangan malu memulai pembicaraan dengan orang asing. Terkadang karena aku tidak begitu percaya diri, aku agak canggung untuk berkomunikasi dengan Bahasa Inggris. Tetapi setelah mencoba berkomunikasi, meski terkadang aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, mereka tidak mempermasalahkannya. Sejak saat itu, aku tidak lagi canggung untuk memulai pembicaraan dengan orang asing lainnya.

Motivasi 

Buat kamu yang ingin berkuliah di luar negeri, terutama di Hokkaido University, tanamkan baik-baik dalam pikiran kalau usaha tidak akan membohongi hasil dan tidak ada usaha yang sia-sia. Semua orang yang keluar negeri pasti melalui proses yang namanya usaha maksimal meski nampak mulus jalannya. Bagi yang masih kuliah, aku sarankan untuk menyeimbangkan kegiatan akademik dan non akademik, tapi tetap sejalur dengan bidang ilmu yang kamu suka. Bagi yang sudah lulus kuliah, persiapkan dokumen-dokumen sebaik mungkin,

karena diluar sana ada ratusan atau bahkan ribuan orang yang melakukan hal yang sama denganmu. Dan ketika semua orang layak dan memiliki kesempatan yang sama untuk mendapat beasiswa, pastikan kamu punya sesuatu yang berbeda yang tidak dimiliki orang lain. Karena memang pada dasarnya setiap orang berbeda, tetapi ada yang tau kelebihannya dan ada yang tidak tahu.