Urang Sunda

MEMOIR OF MY SHITTY JOURNEY: KOTA TUA JAKARTA

Posted on Updated on

MEMOIR OF MY SHITTY JOURNEY: KOTA TUA JAKARTA

Foto5201
Postingan kali ini agak beda, soalnya aku akan menceritakan kesialan bertubi-tubi yang menimpaku selama berlibur di Kota Tua Jakarta. Makanya tulisan ini kuberi judul “My Shitty Journey”. Yap, it’s that “sh*t”. Mungkin penyebabnya karena perjalanan itu kuadain pas 21-12-2012 alias hari kiamat versi Kalender Maya. Najis deh pokoknya. Ini dia pengalamanku, silakan disimak.
Hari itu kebetulan kantorku mulai libur sedangkan rencana mudik ke Solo masih dua hari lagi, karena itu aku merencanakan jalan-jalan ke Jakarta. Maklum lah, selama dua bulan bekerja di Tangerang, aku belum pernah menginjakkan kaki ke tanah Jakarta. Tentu saja rencana jalan-jalannya tetap ala backpacker dong. Biasanya sih aku backpacking solo secara aku ini asli wong Solo *alasan yang maksa* namun ternyata rencana jalan-jalanku disambut baik dua rekan kerja sekantorku sehingga merekapun ikut. Uniknya, kami bertiga beda suku lho. Aku Jawa sementara dua temanku itu Batak dan Sunda. Hahaha….kalo nggak di Jakarta mana bisa kayak gitu khan hahaha ….
Pagi sekitar jam 9 kami berangkat dari Gading Serpong, tapi rencananya kami mampir dulu ke WTC untuk mengambil BB temanku yang diservis. Tapi sialnya kiosnya belum buka dan kami terpaksa nunggu sambil sarapan. Iseng-iseng kami nekad sarapan di Rumah Makan Sederhana yang dikenal sebagai restoran Padang yang elite. Padahal kami bertiga wujudnya udah kayak mahasiswa gembel hahaha. Di rumah makan ini ternyata semua menunya langsung dihidangkan di atas meja, nah nantinya tamunya ambil apa tinggal diitung aja (enaknya sih buat makan rame2). Berhubung kami ini pegawai yang serba ngirit, yang kami ambilin cuma yang murah-murah aja (telor ama kentang balado). Benar aja, mbak-nya pelayannya ampe lirik-lirik kami dengan sinis. Total kami bertiga cuma ngabisin 55 ribu sarapan di situ. Wah, kami pasti udah di-black list ih ama pelayannya.
Setelah puas mengacak-ngacak restoran Padang, kami lalu berangkat menuju stasiun Serpong. Sesuai rencana, kami naik kereta KRL ekonomi jurusan jakarta Kota. Temenku sempet heran karena tarifnya hanya 1.500 rupiah saja. Namun begitu liat kereta, hmmm…pantesan sih. Soalnya yang naik tampang-tampang preman semua hahaha. Cuma kita bertiga aja yang keliatan innocent gitu. Tapi aku sempat salut ada juga cewek yang berani naik kereta KRL sendirian. Kalo aku sih masih itung2 soal safety-nya juga kalo mau sendirian naik KRL ekonomi.
Di perjalanan kami dihibur dengan panorama yang mungkin jadi ciri khas Jakarta, yaitu perumahan kumuh di sepanjang rel dengan background apartemen-apartemen mewah dan gedung bertingkat. Kontras banget deh. Pemandangan ini kami dapat ketika kereta hampir sampai di Tanah Abang. Sayang nggak sempat kufoto.
Sampai di Stasiun Jakarta Kota, kesialan pertama menghinggapi kami. Begitu kereta mulai merapat, justru turun hujan lebat. Yah, akhirnya kami cuma bisa nunggu hingga hujan agak reda. Setelah hujan mulai rintik-rintik, kamipun mulai menjelajahi Jakarta. Dan inilah pemandangan pertama yang kami lihat.
Foto5194
“Din…din…tiiit….tiiiit….heh sialan loe, minggir!!!”
What a traffic. Hebatnya di tengah traffic superkacau seperti ini, ada juga cewek yang dengan entengnya nyebrang. Padahal kami yang cowok bertiga aja bingung nyebrang gimana caranya. Hahaha ternyata kami masih kalah ama cewek. Tapi maklum lah, dia kan penduduk sini, udah biasa. Sedangkan kami bertiga pendatang.
Dan inilah gambaran Stasiun Jakarta Kota yang berarsitektur art-deco.
Foto5258
Hujan sih masih gerimis pas kami memasuki Lapangan Fatahillah. Aku sempat “Wow” pas melihat gedung Stadhuis yang kini menjadi Museum Fatahillah. Ini nih salah satu alasanku jadi backpacker. Ada rasa kekaguman tersendiri ketika kita melihat langsung dengan mata kepala sendiri bangunan terkenal yang selama ini hanya kita kenal lewat gambar di buku atau internet. Sayangnya, pas kami datang ternyata Museum Fatahillah ternyata sedang direnovasi.
Foto5199
Karena hujan bertambah deras, kami lalu memutuskan masuk ke Museum saja untuk berteduh sekalian melihat-lihat. Harga tiket masuknya ternyata naik dari 2 ribu menjadi 5 ribu. Ini suasana di dalamnya.
Foto5221
I’m pretty sure it’s haunted
Yap, there’s nothing in it!
Begitu kami masuk dan berkeliling, ternyata isi museumnya hanya gini-gini aja, payah banget. Harga 5 ribu tuh nggak layak banget. Bahkan jauh lebih bagusan koleksi Museum Radya Pustaka Solo yang tiketnya cuma 3.500 rupiah. Bahkan kami sempat melihat becak yang dimuseumkan. Becak? Emang becak setua itu ya ampe harus masuk museum? Bukannya becak tuh masih ada banyak di Indonesia?
Satu-satunya koleksi yang berkesan cuma mimbar berukir yang indah ini yang entah diambil dari masjid mana.
Foto5203
Ini adalah pemandangan Lapangan Fatahillah pas hujan dari lantai dua museum. Mungkin gini juga ya pemandangan yang dilihat orang-orang belande pas zaman penjajahan.
Foto5226
Parahnya, pas kami naik, ternyata museumnya bocor disana-sini. Nih buktinya, keranjang sampah yang ditaruh di lantai tuh buat nampung air bocorannya.
Foto5228
Bahkan lukisan gubernur jenderal ini juga basah gara-gara air hujan yang merembes dari atas.
Foto5224
Padahal banyak banget peninggalan bersejarah di sini (kebanyakan terbuat dari kayu lagi) dan bisa kujamin bakalan rusak semua kalo keujanan terus kayak gini. Jadi heran, ini tuh museum di Jakarta, ibu kota negara RI? Pada punya otak nggak sih pengurusnya. Udah koleksinya dikit, nggak dijaga, dan yang lebih parah lagi, tiketnya dinaikin lagi! Hufh, sumpah deh. Malu-maluin banget, apalagi pas itu ada dua bule yang berkunjung. Nggak kebayang deh, nama Indonesia pasti langsung tercoreng di dunia internasional *berlebihan*. Saranku, kalo kalian sempat ke Kota Tua, nggak usah repot-repot masuk museumnya, cukup foto-foto aja di depannya. Just wasting your time and money.
Kalo itu belum cukup, para pengunjungnya (yang berada di dalam cuma buat berteduh, sumpah gue yakin nggak ada yang masuk buat liat koleksinya) sekitar jam 3 DIUSIR karena museum mau tutup. DAN DI LUAR LAGI HUJAN DERES!!!
Najis, gila nggak tuh?
Ketika hujan mulai agak reda (belum terang-terang amat), kami memutuskan jalan-jalan lagi sambil foto-foto. Orang-orang pada ngliatin kami dengan geli, “Ngapain nih tiga orang udik foto-foto di tengah ujan gini?”. Maklum baru pertama ke Jakarta hehehe. Ini dia suasana di Kota Tua yang berhasil aku tangkap. Ini Cafe Batavia.
Foto5231
Dan ini Museum Wayang.
Foto5235
Ada juga Museum Keramik yang dulunya gedung pengadilan Belanda.
Foto5255
Berbekal peta yang kami dapat dari museum, kami lalu melanjutkan perjalanan mencari Bank Indonesia. Kami menemukan sungai (sayangnya jembatan Intan nggak ketemu) dan dari kejauhan melihat Toko Merah yang legendaris, dan tentu saja sebagai penambah kontrasnya suasana, ada sungai penuh sampah di depannya (baunya juga luar biasa busuk).
Foto5236
Ada juga bangunan berkubah merah ini, sayang aku nggak tahu gedung apa ini.
Foto5237
Akhirnya, gedung BI!!!!
Foto5245
Foto5240
Foto5244
Kurasa ini Bank Mandiri.
Foto5254
Dengan basah kuyub, kamipun berusaha mencari masjid untuk memberikan kesempatan salah satu temanku untuk sholat. Nah, anehnya nih, di Jakarta susah banget nyari masjid. Padahal di Solo mungkin tiap 5 meter ada masjid. Setelah muter-muter akhirnya kami menemukan masjid di belakang gedung BNI (masuk-masuk kampung).
Ketika kami akan pulang, kesialan lain menghinggapi kami. Ternyata nggak ada kereta menuju Serpong dari Jakarta Kota hingga jam 7 malam. Ditambah lagi, para pegawai stasiun sama sekali nggak mau membantu kami. Akhirnya dengan inisiatif kami sendiri setelah melihat peta KRL, kami berencana transit di stasiun Manggarai, lalu ke Tanah Abang, baru ke Serpong. Kami lalu membeli tiket KRL ekonomi ke Manggarai dan lagi-lagi kesialan lagi datang …
Kami salah naik kereta.
Karena baru di jakarta dan baru kali ini naik KRL, kami bertiga sama sekali nggak tau perbedaan KRL ekonomi dan Commuter Line. Kereta yang kami masuki justru Commuter Line (salah satu temenku sebenarnya dah curiga karena keretanya ber-AC, namun karena petugas kereta yang jaga bilang ini kereta ke Manggarai ya kami naiki aja). Beneran deh, pas karcisnya diperiksa, kami akhirnya dipaksa turun di stasiun terdekat, yaitu Gondangdia (padahal 2 stasiun lagi udah nyampe Manggarai nih). Sialan tuh PT KAI, kalo bikin nama kereta kenapa nggak KRL ekonomi ama KRL AC gitu, pake istilah susah kayak Commuter Line segala.
Di Gondangdia akhirnya kami menunggu KRL ekonomi ke Manggarai. Namun begitu lewat kami langsung mengurungkan niat untuk masuk, soalnya kereta superpenuh, penumpang banyak yang bergelantungan di pintu, bahkan ada yang di atas kereta. Awalnya sempat kepikiran sih kami naik kereta commuter line tanpa tiket, toh tinggal 2 stasiun. Namun berhubung temenku yang Batak itu orang jujur (lulusan seminari soalnya, calon pastur hehehe), akhirnya kami membeli tiket commuter line seharga 8 ribu hanya untuk melewati dua stasiun. Dan coba tebak, selama perjalanan dua stasiun itu nggak ada pemeriksaan karcis hahaha. Tapi nggak apa-apalah, toh Tuhan yang lihat kan?
Di Manggarai, kami beruntung karena ternyata ada kereta commuter line langsung ke Serpong, tapi harus transit dulu di tanah Abang. Nah, rupanya di sini kesialan belum rela meninggalkan kami. Aku sempat bertanya dimana KRL yang akan naiki lewat, jawabnya di line 2. Ya udah kami nunggu di situ dong. Anehnya selama setengah jam nggak ada kereta lewat. Kemudian aku nanya lagi dan satpamnya meralat jawabannya “Kalo nggak line 2, line 5 mas.”
Waduh, kalo line 5 dari tadi commuter line lalu lalang. Ternyata kereta yang harusnya kami naiki mungkin dah lewat 2 atau 3 kali tanpa kami sadari (suara di pengumuman kurang jelas sih, yang aku dengar cuma Sudirman gitu, dan abis itu aku baru tau kalo Sudirman juga termasuk stasiun yang dilewati kereta jurusan Tanah Abang). Dan yap, karena waktu itu pas berbarengan dengan jam pulang kerja (dan pas hari kerja juga), kamipun terpaksa berdiri dan berdesakan dengan penumpang lain.
Bagi yang belum tau perbedaan KRL ekonomi dan KRL commuter line, ini dia perbedaannya:
KRL ekonomi
KRL commuter line
Lebih mudah lalu lalang karena nggak ada pintunya Lebih berbahaya karena bisa kejepit pintu otomatis
Nyaman karena angin sejuk yang masuk lewat lubang besar yang harusnya pintu Kurang nyaman karena AC-nya terlalu dingin
Penumpangnya sibuk menghadapi pedagang asongan dan pengemis Penumpangnya sibuk main i-pad
Karakter penumpangnya juga beda banget nih (bukan bermaksud menghakimi ya). Soalnya pernah pas kami turun dari kereta commuter line, penumpang dari stasiun yang mau masuk kereta otomatis memberikan jalan terlebih dahulu supaya kami bisa turun, baru mereka naik. Aku aja ampe heran, gila tertib banget. Nah, pengalaman kayak gitu nggak bakal bisa kita dapet pas naek kereta ekonomi, yang ada kegencet ama keinjek-keinjek pas nyoba keluar.
Akhirnya dengan penuh perjuangan, kamipun sampai di Stasiun Serpong. Untungnya kendaraan umum di depan stasiun lewat sampai malam. Di dalam angkot kami menertawakan kesialan kami yang datang bertubi-tubi. Tapi temenku bilang, kesialan itu asyik kalo bisa dibagi ama temen-temen. Dan bener juga sih omongan temenku, coba kalo kesialannya harus ditanggung sendiri, keselnya udah numpuk nggak karuan pastinya. Sebagai pelampiasan, kamipun mampir di BSD Junction Tangerang buat makan malam di KFC pesan paket combo hahaha.
Nah, itulah pengalamanku jalan-jalan di Kota Tua. Tapi nggak kapok deh backpackeran ke Kota Tua lagi. Kapan-kapan pengen hunting foto di sana, apalagi bareng temen-temen kayak gini.

KH Hasyim Muzadi Wafat, Kenangan bersama ketika mengunjungi PP Darussalam Ciamis

Posted on Updated on

<

p class=”content” style=”position:relative;word-wrap:break-word;color:rgb(34,34,34);font-family:Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif;font-size:16.56px;”>

<

p class=”content-outer” style=”min-height:0;margin-right:0;margin-bottom:0;margin-left:0;position:relative;box-shadow:rgba(0,0,0,0.14902) 0 0 3px;min-width:0;max-width:960px;padding:0;”>

<

p class=”fauxborder-left content-fauxborder-left” style=”background-position:left top;background-repeat:repeat-y;position:relative;”>

<

p class=”content-inner” style=”padding:0;background-color:rgb(255,255,255);margin-right:0;margin-bottom:0;margin-left:0;”>

<

p class=”main-outer” style=”position:relative;min-height:0;border-top:0 solid rgb(238,238,238);margin:10px 0 0;padding:0;”>

<

p class=”fauxborder-left main-fauxborder-left” style=”background-position:left top;background-repeat:repeat-y;position:relative;”>

<

p class=”region-inner main-inner” style=”min-height:0;margin-right:0;margin-bottom:0;margin-left:0;position:relative;padding:0;min-width:0;max-width:100%;width:auto;”>

<

p class=”columns fauxcolumns” style=”zoom:1;position:relative;padding-left:0;padding-right:0;”>

<

p class=”columns-inner” style=”min-height:0;”>

<

p class=”column-center-outer” style=”position:relative;float:left;width:360px;”>

<

p class=”column-center-inner” style=”padding:0;margin-right:0;margin-bottom:0;margin-left:0;”>

<

p class=”main section” id=”main” style=”margin-right:0;margin-bottom:0;margin-left:0;padding:0;”>

<

p class=”widget Blog” id=”Blog1″ style=”position:relative;min-height:0;margin-right:0;margin-bottom:0;margin-left:0;line-height:1.4;clear:both;padding:0;”>

<

p class=”blog-posts hfeed”>

<

p class=”date-outer” style=”padding:10px;margin-right:0;margin-bottom:0;margin-left:0;”>

<

p class=”date-posts”>

<

p class=”post-outer” style=”padding:0;margin-right:0;margin-bottom:0;margin-left:0;”>

<

p class=”post hentry uncustomized-post-template” style=”position:relative;min-height:0;margin-right:0;margin-bottom:0;margin-left:0;”>

KH Hasyim Muzadi Wafat, Kenangan bersama ketika mengunjungi PP Darussalam Ciamis

<

p class=”post-header” style=”line-height:1.6;margin-right:0;margin-bottom:1.5em;margin-left:0;font-size:18.216px;”>

<

p class=”post-header-line-1″>

<

p class=”post-body entry-content” id=”post-body-6362509049496490420″ itemprop=”articleBody” style=”width:340px;font-size:18.216px;line-height:1.3;position:relative;”>

<

p style=”text-align:justify;”>

<

p class=”separator” style=”clear:both;text-align:center;”>KH Hayim Muzadi Ulama yang pernah mengunjungi Pesantren Darussalam Ciamis dan sempat menjadi tamu kehormatan Allohumma Yarham al-Maghfurlah KH Irfan Hielmy, Pengasuh PP Darussalam Ciamis.

<

p class=”separator” style=”clear:both;text-align:center;”>

<

p class=”separator” style=”clear:both;text-align:center;”>

<

p class=”separator” style=”clear:both;”>

<

p style=”text-align:center;”>

KH Hayim Muzadi Ulama yang pernah mengunjungi Pesantren Darussalam Ciamis dan sempat menjadi tamu kehormatan Allohumma Yarham al-Maghfurlah KH Irfan Hielmy, Pengasuh PP Darussalam Ciamis.

<

p style=”text-align:justify;”>

<

p style=”text-align:justify;”>Innalillahi Wainna ilaihi Roji’un, Semoga Alloh mengampuni dan menerima amal ibadahnya, aamiin

<

p style=”text-align:justify;”>

<

p style=”text-align:justify;”>Kami Segenap Keluarga Besar PP Darussalam khususnya Pengurus Pusat Ikatan Alumni Darussalam (IKada) Ciamis Jawa Barat Indonesia mengucapkan Duka atas kepungannya keharibaan Alloh SWT, semoga sanak saudara serta semua ummat Islam diberikan ketabahan oleh Alloh SWT, aamiin yaa robbal’alamien.

<

p style=”text-align:justify;”>

<

p style=”text-align:justify;”>

<

p style=”text-align:center;”>

<

p style=”text-align:justify;”>

<

p style=”text-align:justify;”>Berita Duka 16 Maret 2017, Putra Terbaik Bangsa pada tahun 2017 meninggalkan kita semua, namun tidaklah dengan kenangan serta keintelektualannya dalam bersikap dan bertindak pada masanya. berikut sebagian biografi beliau:

Nama Lengkap Kyai Haji Doktor Ahmad Hasyim Muzadi  lahir di Bangilan, Tuban, 8 Agustus 1944. Dia adalah salah satu tokoh dan intelektual Islam utama Indonesia yang pernah menjabat Ketua Pengurus Besar Nahdlatul UlamaKH Hasyim Muzadi menempuh jalur pendidikan dasarnya di Madrasah Ibtidaiyah di Tuban pada tahun 1950, melanjutkan pendidikan di Pondok Modern Gontor Ponorogo, ia lalu menuntaskan pendidikan tingginya di Institut Agama Islam Negeri Malang, Jawa Timur pada tahun 1969. Kiprah organisasinya mulai dikenal ketika pada tahun 1992 ia terpilih menjadi Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur yang terbukti mampu menjadi batu loncatan bagi Hasyim untuk menjadi Ketua PBNU pada tahun 1999. Tercatat, suami dari Hj. Muthomimah ini pernah menjadi anggota DPRD Tingkat I Jawa Timur pada tahun 1986, yang ketika itu masih bernaung di bawah Partai Persatuan Pembangunan dan anggota Dewan Pertimbangan Presiden sejak 19 Januari 2015.

<

p class=”MsoNormal” style=”border:0;color:rgb(88,88,88);font-family:"font-size:16px;font-stretch:inherit;margin-right:0;margin-bottom:0;margin-left:0;padding:0;vertical-align:baseline;”>Pada tahun 1992, KH Hasyim Muzadi terpilih menjadi Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur. Selanjutnya, pada tahun 1999-2010, dia menjadi Ketua Umum PBNU. KH Hasyim Muzadi yang juga menjabat sebagai Presiden WCRP (World Conference on Religions for Peace) sekaligus Sekjen ICIS (International Conference for Islamic Scholars) secara cerdas menjawab sejumlah tuduhan PBB (perserikatan Bangsa-Bangsa) bahwa umat Islam di Indonesia anti toleransi beragama. Dan inilah pidato ‘menggetarkan’ tersebut : “Selaku Presiden WCRP dan Sekjen ICIS, saya sangat menyayangkan tuduhan INTOLERANSI agama di Indonesia. Pembahasan di forum dunia itu, pasti karena laporan dari dalam negeri Indonesia. Selama berkeliling dunia, saya belum menemukan negara muslim mana pun yang setoleran Indonesia.”


<

p class=”MsoNormal” style=”border:0;color:rgb(88,88,88);font-family:"font-size:16px;font-stretch:inherit;margin-right:0;margin-bottom:0;margin-left:0;padding:0;vertical-align:baseline;”>Akhirnya kembali kepada bangsa Indonesia, kaum muslimin sendiri yang harus sadar dan tegas, membedakan mana HAM yang benar (humanisme) dan mana yang sekedar Westernisme”.

<

p class=”MsoNormal” style=”border:0;color:rgb(88,88,88);font-family:"font-size:16px;font-stretch:inherit;margin-right:0;margin-bottom:0;margin-left:0;padding:0;vertical-align:baseline;”>Pidato KH Hasyim Muzadi yang berasal dari NU sebagai ormas terbesar di Indonesia ini juga dinilai sebagai penawar rasa haus umat setelah selama belasan tahun umat tidak melihat ketegasan seorang tokoh besar Ulama dari kalangan NU yang berani tampil cerdas dan berani dalam bersikap. Dasar-dasar pendirian keagamaan di Nahdlatul Ulama tersebut menumbuhkan sikap kemasyarakatan yang bercirikan pada: SikapTawassuth dan I’tidal: Sikap tengah yang berintikan kepada prinsip hidup yang menjunjung tinggi keharusan berlaku adil dan lurus ditengah-tengah kehidupan bersama. Nahdlatul Ulama dengan sikap dasar ini akan selalu menjadi kelompok panutan yang bersikap dan bertindak lurus dan selalu bersifat membangun serta menghindari segala bentuk pendekatan yang bersifat tatharruf (ekstrim). Sikap Tasamuh: Sikap toleran terhadap perbedaan pandangan baik dalam masalah keagamaan, terutama hal-hal yang bersifat furu’ atau menjadi masalah khilafiyah, serta dalam masalah kemasyarakatan dan kebudayaan. Sikap Tawazun: Sikap seimbang dalam berkhidmah. Menyertakan khidmah kepada Alloh SWT, khidmah kepada sesama manusia serta kepada lingkungan hidupnya. Menyelaraskan kepentingan masa lalu, masa kini dan masa mendatang. Amar Ma’ruf Nahi Munkar: Selalu memiliki kepekaan untuk mendorong perbuatan yang baik, berguna dan bermanfaat bagi kehidupan bersama; serta menolak dan mencegah semua hal yang dapat menjerumuskan dan merendahkan nilai-nilai kehidupan.

<

p class=”MsoNormal” style=”border:0;color:rgb(88,88,88);font-family:"font-size:16px;font-stretch:inherit;margin-right:0;margin-bottom:0;margin-left:0;padding:0;vertical-align:baseline;”>Semoga ALLOH SUBHANAHU WATA’ALA merahmatinya, menempatkan disisi NYA bersanding dengan para Syuhada Aamiin 

<

p class=”MsoNormal” style=”border:0;color:rgb(88,88,88);font-family:"font-size:16px;font-stretch:inherit;margin-right:0;margin-bottom:0;margin-left:0;padding:0;vertical-align:baseline;”>sumber: 

<

p class=”MsoNormal” style=”border:0;color:rgb(88,88,88);font-family:"font-size:16px;font-stretch:inherit;margin-right:0;margin-bottom:0;margin-left:0;padding:0;vertical-align:baseline;”>https://arenterpriseindonesia.blogspot.co.id/2017/03/kh-hasyim-muzadi-wafat-dan-biografinya.html

<

p class=”separator” style=”clear:both;text-align:center;”>

<

p class=”separator” style=”clear:both;text-align:center;”>

<

p style=”text-align:center;”>KH Hasyim Muzadi Wafat, Kenangan bersama ketika mengunjungi PP Darussalam Ciamis


Liputan Khusus Dalam Gambar


<

p class=”separator” style=”clear:both;text-align:center;”>

<

p class=”separator” style=”clear:both;text-align:center;”>

<

p class=”separator” style=”clear:both;text-align:center;”>

<

p class=”separator” style=”clear:both;text-align:center;”>

<

p class=”separator” style=”clear:both;text-align:center;”>

LAGU JEUNG KAULINAN BARUDAK SUNDA

Posted on


Saha anu tiasa keneh,,?

Pami tiasa ajarkeun deui ka para incu

LAGU JEUNG KAULINAN BARUDAK SUNDA

  1. Ucang ucang angge

mulung muncang ka parangge

digogog ku anjing gede

anjing gede nu Pa Lebe

ari gog gog cungungung

  1. Trang trang kolentrang

si londok paeh nundutan

mesat gobang kabuyutan

tikusruk kana durukan

  1. Tongtolang nangka

kawinan bapa

poe salasa

teu beja-beja

aduh aduh si bapa

teungteuingeun ka ema

bapa mah suka suka

jeuh nu ngora

  1. Yu batur urang ulin ka Cibadak

ah embung sieuna badak nu kamari

geus euweuh geus dibedil ku si Jendil

Ndil ndilong si Jending dirawu kelong

  1. Perepet jengkol jajahean

kadempet konxxx jejeretean

  1. Pa Deong Pa Deong

pangmukakeun lawang angin

  1. Cing cangkeling

manuk cingkleung cindeten

plos ka kolong

bapa Satar buleneng

  1. Tokecang tokecang

malik pendil tosblong

angeun kacang angeun kacang

sapariuk kosong

  1. Aya hiji kurung

pinuh ku japati

japati kaluar

disada uok uokan

Alim karamana

alim ka ibuna

hoyong kaputrana

nu centik bulu socana

  1. Colenak beuleum peuyeum digulaan

awas bom batok (2x)

rebu rebu rada nyentok (2x)

leumpangna dicentok centok (2x)

sieun nincak tai kotok

  1. Blung blong

tampelet tampa gelom

lalamis bulu maung

cerentel cantel

pakuong doblus

  1. Tat tit tut

daun kanyere (kaliki)

saha nu hitut budak awewe (lalaki)

dibawa kasaung butut

balikna ngaburusut

  1. Abdi teh ayeuna

gaduh hiji boneka

teu kinten saena

sareng lucuna

Ku abdi dierokan

erokna sae pisan

sumangga tingali

boneka abdi

Kaulinan 

  1. Ambila-ambilan

Ambil-ambilan turuktuk hayam samantu

saha nu di ambil

kami mah budak pahatu

purah nutu purah ngejo

purah ngasakan baligo

purah tunggu bale gede

nyerieun sukuna kacugak ku kaliage

aya ubarna urat gunting sampurage

tiguling nyocolan dage.

2.Cingciripit

Cingciripit

tulang bajing kacapit

kacapit ku bulu pare

bulu pare seuseukeutna

jol Pa Dalang

mawa wayang jrek-jrek nong…..

3.Lalandakan

Landak landak sonari

kop cau kop tiwu

hakaneun sia janari

bekel miang ka batawi

kop jurig jarian

kop jurig tangkod

kop jurig pacilingan

kop jurig onom……

4.Oray-orayan

Oray orayan

luar leor mapay sawah

tong ka sawah

parena keur sedeng beukah

Oray-orayan

laur leor mapay leuwi

tang ka leuwi

di leuwi loba nu mandi

Oray-orayan

oray naon, orya bungka, bungka naon, bungka laut

laut naon, laut dipa, dipa naon,…dipandeuriiiii…

Kakawihan Barudak

  1. Ayang-ayanggung

Ayang-ayanggung

gung goongna rame

menak ki Wastanu

nu jadi wadana

naha maneh kitu

tukang olo-olo

loba anu giruk

ruket jeung kompeni

niat jadi pangkat

katon kagorengan

ngantos kanjeng dalem

lempa lempi lempong

ngadu pipi jeung nu ompong

jalan ka batawi ngemplong

2.Margaluyu

Bang-bang kalima lima gobang, bang

bangkong di tengah sawah, wah

wahai tukang bajigur, gur

guru sakola desa, sa

saban poe ngajar, jar

jarum paranti ngaput, put

putri nu gareulis, lis

lisung kadua halu, lu

luhur kapal udara, ra

ragrag di Jakarta, ta

taun opat hiji, ji

haji rek ka mekah, kah

kahar tujuh rebu, bu

buah meunang ngala, la

lauk meunang nyobek, bek

beker meunang muter, ter

terus ke Citapen, pen

pena gagang kalam, lam

lampu eujeung damar, mar

mari kueh hoho, ho

hotel pamandangan, ngan

ngantos kangjeng dalem, lem

lempa lempi lempong

ngadu pipi jeung nu ompong

3.Ole-ole Ogong

Ole-ole ogong

melak cabe di tarogong

dihakan ku mebe ompong

diteang kari sapotong

au au aheng

beuleum cau tutung geheng

embe embe domba

anak sapi tutunggulan

ema ema weya

si sahi kabuhulan

hayang geura diinuman

embe embe domba

anak sapi tuntunggulan

ema ema weya

si sahi pupundukan

ku baturna ditumbukan

4.Rat-rat Gurisat

Rat rat gurisat

nini engrat paeh tiselap

tiselap kana kuciat

dibura ku laja tuhur

laja tuhur meunang ngunun

meunang ngunun tujuh taun….